INJURY TIME - Lonjakan kasus cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) di kalangan atlet lokal dalam dua bulan terakhir menjadi perhatian serius. Fisioterapis Akhmad Ferdian mengungkapkan, peningkatan signifikan terutama terjadi pada atlet futsal dan basket berusia 18 hingga 35 tahun.
Menurut Ferdian, persoalan utama bukan hanya tingginya angka cedera, tetapi keterlambatan penanganan. “Mayoritas atlet datang sudah dalam kondisi kronis. Cedera terjadi dua sampai enam bulan sebelumnya, namun baru mencari penanganan saat performa mereka turun drastis,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).
Ia menjelaskan, hampir 60 persen pasien sempat mencoba pengobatan sendiri tanpa evaluasi medis yang tepat. Akibatnya, cedera ACL berkembang menjadi kerusakan lanjutan pada struktur lutut lainnya, seperti meniskus dan tulang rawan.
Ferdian juga menyoroti tingginya risiko cedera pada atlet wanita. Berdasarkan data klinis yang ia tangani, perempuan memiliki risiko tiga hingga empat kali lebih besar mengalami cedera ACL dibanding pria, terutama pada cabang olahraga dengan gerakan pivot seperti voli, basket, dan sepak bola. Faktor anatomis, hormonal, serta pola rekrutmen otot disebut menjadi penyebab utama.
“Cedera ACL yang diabaikan bisa memicu efek domino. Lutut yang tidak stabil membuat meniskus bekerja lebih keras sehingga berisiko robek. Jika berlanjut, bisa terjadi kerusakan tulang rawan permanen hingga osteoarthritis dini, bahkan di usia 30-an,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanganan dini bukan hanya mempercepat pemulihan, tetapi juga mencegah kerusakan permanen yang dapat mengakhiri karier atlet lebih cepat dan menurunkan kualitas hidup.
Dalam proses pemulihan, fisioterapi memegang peran sentral. Ferdian menilai masih banyak atlet yang menganggap fisioterapi sekadar untuk mengurangi nyeri. Padahal, rehabilitasi cedera ACL memerlukan pendekatan komprehensif dan berbasis bukti ilmiah.
Tahapan pertama adalah asesmen mendalam untuk menentukan tingkat keparahan cedera, pola gerak yang salah, serta faktor risiko individu. Selanjutnya, atlet menjalani program latihan bertahap, mulai dari pengendalian inflamasi, penguatan otot, hingga latihan propriosepsi dan neuromuskular guna mengembalikan stabilitas lutut.
“Koreksi pola gerak juga penting. Banyak cedera terjadi karena biomekanika tubuh yang keliru saat berlari, melompat, atau mendarat. Jika tidak diperbaiki, risiko cedera berulang sangat tinggi,” katanya.
Tahap akhir adalah program return-to-sport terstruktur. Atlet tidak langsung kembali bertanding, tetapi melalui simulasi aktivitas olahraga, evaluasi performa, serta program pencegahan cedera jangka panjang untuk memastikan kesiapan fisik dan mental.
Ferdian menekankan, baik memilih jalur operasi maupun non-operasi, fisioterapi tetap menjadi fondasi utama pemulihan. “Semakin cepat konsultasi dan memulai rehabilitasi yang tepat, semakin besar peluang atlet kembali ke lapangan tanpa rasa khawatir,” pungkasnya.
Editor : Arif Subekti