Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan dan Pengembangan Tenaga Keolahragaan yang digelar di Banjarmasin, 11-13 Februari 2026, dengan fokus pada pemanfaatan sistem informasi olahraga.
Kegiatan tersebut diikuti oleh para pengurus cabang olahraga (cabor) se-Kalimantan Selatan sebagai langkah awal membangun tata kelola olahraga yang lebih profesional, transparan, dan berbasis data.
Kepala Dispora Kalsel, Pebriadin Hapiz, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membentuk sistem pendataan olahraga yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Pengurus cabang olahraga kami bimbing untuk mengenal dan menggunakan sistem informasi keolahragaan. Targetnya, ke depan kita memiliki basis data yang objektif, rasional, transparan, dan selalu diperbarui,” ujarnya.
Melalui sistem ini, seluruh data keolahragaan akan terdokumentasi secara menyeluruh, mulai dari atlet, pelatih, wasit, perangkat pertandingan, hingga kebutuhan spesifik tiap cabang olahraga. Data tersebut nantinya menjadi rujukan utama dalam perencanaan program, penyelenggaraan event, hingga penyusunan anggaran yang lebih tepat sasaran.
“Dengan data yang lengkap dan akurat, kebutuhan riil olahraga di Kalimantan Selatan bisa dipetakan dengan baik. Ini menjadi dasar pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan olahraga yang lebih terarah,” jelas Pebriadin.
Ia menambahkan, penguatan sistem informasi ini sejalan dengan visi Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan yang menempatkan peningkatan prestasi olahraga sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.
“Ini bukan sekadar administrasi, tetapi bagian dari upaya nyata membangun olahraga melalui penguatan pembinaan cabang olahraga dan basis data yang kuat,” tegasnya.
Sementara itu, narasumber dari Smart Banua Tech, Rizky Fadhillah, menjelaskan bahwa sistem informasi yang dikembangkan berbasis website dan dirancang sebagai pusat database olahraga Kalimantan Selatan.
Setiap pengurus cabang olahraga nantinya diwajibkan memiliki dan mengelola data atlet serta sumber daya olahraga lainnya secara digital.
“Ke depan, Kalimantan Selatan akan memiliki database atlet yang jelas, terstruktur, dan terdokumentasi. Ini penting untuk kebutuhan pembinaan maupun event-event olahraga berikutnya,” kata Rizky, Kamis (12)2/2026).
Ia juga menyoroti persoalan lama yang kerap terjadi akibat lemahnya pendataan, yakni atlet asal Kalimantan Selatan yang justru tercatat mewakili daerah lain.
Melalui sistem ini, data yang dihimpun tidak hanya mencakup atlet aktif, tetapi juga wasit, pelatih, pengurus, hingga tenaga pendukung seperti terapis dan dokter olahraga. Pengembangan berikutnya juga akan mencakup pendataan fasilitas dan sarana prasarana olahraga di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.
“Database ini akan terus dikembangkan. Tidak hanya atlet aktif, tetapi juga atlet junior, senior, bahkan mantan atlet yang pernah mewakili Kalimantan Selatan tetap bisa didokumentasikan sebagai bagian dari data daerah,” ungkapnya.
Dengan hadirnya sistem informasi keolahragaan tersebut, Dispora Kalsel optimistis pengelolaan olahraga di Banua akan semakin profesional, terencana, dan berbasis data, sehingga mampu mendorong peningkatan prestasi olahraga Kalimantan Selatan di tingkat regional hingga nasional.
Editor : Sutrisno