INJURY TIME - Cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) kerap dipersepsikan sebagai cedera lutut berat yang selalu ditandai nyeri hebat dan pembengkakan besar.
Namun, menurut fisioterapis Akhmad Ferdian, realitas di lapangan justru berbeda. Banyak atlet—bahkan masyarakat yang aktif berolahraga—mengalami cedera ACL tanpa menyadarinya, hingga kondisinya berkembang menjadi kerusakan serius.
“Dalam praktik fisioterapi, justru banyak pasien datang saat kondisinya sudah kompleks. Bukan karena mereka abai, tapi karena gejalanya tidak terlihat ekstrem,” ujar Akhmad Ferdian, Minggu (1/2/2026).
Ia menegaskan, cedera ACL yang tidak ditangani sejak dini dapat memicu cedera lanjutan seperti robekan meniskus, kerusakan tulang rawan, hingga risiko osteoarthritis dini.
ACL: Ligamen Kecil dengan Dampak Besar
Sebagai fisioterapis, Ferdian menjelaskan bahwa ACL merupakan salah satu ligamen utama yang berfungsi menjaga stabilitas lutut saat berlari, melompat, berputar, dan melakukan perubahan arah gerak. Ketika ligamen ini mengalami robekan—baik sebagian maupun total—kontrol biomekanik lutut akan terganggu, meski tidak selalu disertai nyeri hebat.
“Inilah yang membuat cedera ACL sering menjadi ancaman senyap (silent threat). Secara fungsi sudah terganggu, tapi secara rasa sakit belum tentu terasa berat,” jelasnya.
Ada lima tanda cedera ACL yang sering diabaikan. Pertama, Lutut terasa tidak stabil tanpa nyeri hebat. Keluhan yang sering muncul adalah rasa lutut “goyah” atau seperti “mau copot”, terutama saat turun tangga, berbelok cepat, atau berjalan di permukaan tidak rata. “Rasa tidak stabil ini adalah tanda klasik instabilitas ACL,” kata Ferdian.
Kedua, nyeri yang datang belakangan, pada banyak kasus robekan parsial ACL, nyeri justru muncul beberapa jam hingga keesokan hari setelah aktivitas. “Pas kejadian terasa biasa saja, besoknya baru sakit dan kaku. Ini yang sering menipu,” ujarnya.
Ketiga, bengkak ringan yang datang dan pergi, berbeda dengan cedera akut yang langsung bengkak besar, cedera ACL ringan sering ditandai pembengkakan kecil yang datang dan pergi. “Itu tanda ada iritasi dan peradangan di dalam sendi,” jelas Ferdian.
Keempat, performa menurun tampa sebab, penurunan kepercayaan diri saat sprint, melompat, atau bertumpu pada satu kaki bisa menjadi sinyal gangguan kontrol neuromuskular akibat cedera ACL.
Kelima, kaku di pagi hari atau saat duduk lama, kekakuan sendi yang sering dianggap normal, menurut Ferdian, bisa menjadi indikasi adanya gangguan mekanis lutut. Jangan Tunggu Parah.
Sebagai fisioterapis, Akhmad Ferdian menekankan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan profesional.
“Kalau lutut terasa tidak stabil, nyeri berulang setelah olahraga, sering bengkak, performa menurun, atau kaku berkepanjangan—jangan tunggu parah. Segera evaluasi ke tenaga medis atau fisioterapis,” tegasnya.
Menurutnya, penanganan dini bukan hanya menyelamatkan performa atlet, tetapi juga menjaga kesehatan sendi lutut jangka panjang.
“Karier atlet bisa berhenti bukan karena satu cedera besar, tapi karena satu cedera kecil yang diabaikan,” pungkas Ferdian.
Editor : Arif Subekti