BANJARMASIN – Olahraga padel yang tengah naik daun di Banjarmasin membawa antusiasme baru bagi masyarakat. Lapangan padel kini bermunculan dan diminati berbagai kalangan, mulai dari atlet profesional hingga keluarga. Namun di balik tren positif tersebut, terdapat risiko cedera yang perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi pemain yang belum memiliki persiapan fisik memadai.
Fisioterapis olahraga, Akhmad Ferdian, mengungkapkan kepada Radar Banjarmasin, Minggu (25/1/2026) bahwa dalam tiga bulan terakhir terjadi peningkatan signifikan kasus cedera akibat bermain padel.
Menurutnya, sebagian besar cedera tersebut sebenarnya dapat dicegah apabila pemain memahami risiko serta melakukan penanganan awal yang tepat.
Padel merupakan olahraga yang memadukan unsur tenis dan squash, dimainkan di lapangan tertutup dengan dinding kaca dan kawat sebagai bagian dari permainan. Karakteristik ini menuntut pemain melakukan gerakan eksplosif, perubahan arah mendadak, serta pukulan overhead berulang dalam ruang yang relatif sempit. Kondisi tersebut, ditambah potensi benturan dengan dinding, menciptakan pola cedera yang khas.
Selain itu, penggunaan raket padel yang solid tanpa senar menghasilkan getaran lebih besar ke area pergelangan tangan dan siku. Bila teknik pegangan dan pukulan tidak tepat, risiko cedera pun meningkat.
Akhmad Ferdian menjelaskan, salah satu cedera paling umum pada pemain padel adalah tennis elbow, yakni nyeri di sisi luar siku akibat gerakan backhand berulang dan genggaman raket yang terlalu kuat. Cedera ini biasanya ditandai dengan rasa sakit saat menggenggam atau mengangkat benda ringan.
Cedera bahu juga kerap ditemui, terutama akibat pukulan overhead yang dilakukan berulang kali. Kondisi ini dapat memicu peradangan pada rotator cuff, dengan gejala berupa nyeri saat mengangkat lengan, rasa lemah, hingga bunyi klik pada sendi bahu.
Sementara itu, ankle sprain atau keseleo pergelangan kaki menjadi cedera yang paling sering terjadi akibat perubahan arah yang cepat. Cedera ini ditandai dengan bengkak, memar, serta nyeri saat berjalan. Pada tingkat lebih serius, pemain juga berisiko mengalami cedera lutut, seperti gangguan ligamen ACL, MCL, atau meniskus, terutama bila kondisi fisik tidak prima.
Pentingnya Penanganan Awal yang Tepat
Menurut Akhmad Ferdian, respons dalam menit-menit awal setelah cedera sangat menentukan proses pemulihan. Ia menyoroti masih banyak kesalahan yang dilakukan pemain, seperti memijat area yang bengkak, mengompres dengan air hangat, atau bahkan memaksakan diri untuk tetap bermain.
Ia merekomendasikan penerapan protokol PRICE dalam 24 hingga 72 jam pertama pasca-cedera. Protokol ini meliputi Protection (menghentikan permainan dan melindungi area cedera), Rest (istirahat dengan gerakan ringan tanpa nyeri), Ice (kompres es selama 15–20 menit setiap 2–3 jam), Compression (menggunakan perban elastis untuk mengurangi pembengkakan), serta Elevation (mengangkat area cedera lebih tinggi dari jantung selama beberapa jam setiap hari).
Banyak pemain datang ke fisioterapis dalam kondisi cedera yang sudah memburuk akibat mengabaikan tanda awal. Padahal, tubuh sebenarnya telah memberikan sinyal yang jelas.
Konsultasi dengan fisioterapis disarankan apabila nyeri tidak berkurang setelah 3–5 hari istirahat, pembengkakan semakin besar atau berubah warna, terdengar bunyi “pop” saat cedera terjadi, sendi terasa tidak stabil, sulit berjalan, atau muncul rasa kebas di area cedera.
Akhmad Ferdian menegaskan, anggapan bahwa cedera ringan akan sembuh dengan sendirinya merupakan kesalahan fatal. Cedera seperti sprain yang ditangani secara keliru dapat berkembang menjadi instabilitas kronis dan berdampak pada performa jangka panjang.
Menurutnya, peran fisioterapis olahraga tidak hanya mengatasi nyeri, tetapi juga mengidentifikasi akar masalah, memperbaiki pola gerak, serta menyusun program pencegahan yang spesifik bagi atlet maupun pemain rekreasional.
“Intervensi dini adalah kunci. Penanganan yang tepat sejak awal akan membantu menjaga performa dan mencegah cedera berulang di masa depan,” ujarnya.
Editor : Arif Subekti