Dari berbagai penjuru daerah, mereka datang dengan satu tujuan yang sama: menaklukkan lintasan Arutmin Borneo Run (ABR) 2025, ajang lari tahunan yang kini menjelma menjadi ikon olahraga di Kalimantan Selatan.
Suasana pemanasan terasa menegangkan sekaligus penuh energi. Otot-otot dipersiapkan, napas diatur, dan mata tertuju ke garis start.
Tepat pada waktu yang telah ditentukan, dentuman pistol start memecah keheningan pagi. Kategori Half Marathon (21K) menjadi yang pertama dilepas, disusul 10K beberapa menit kemudian, sebelum akhirnya kategori 5K menyusul dengan sorak dan semangat yang tak kalah membara.
Panitia tak henti mengingatkan pentingnya menjaga hidrasi. Cuaca pagi yang menghangat membuat keberadaan water station di sejumlah titik menjadi krusial demi menjaga kondisi para pelari yang terus berpacu dengan waktu dan diri mereka sendiri.
Tahun ini menandai penyelenggaraan ABR yang ke-17, sekaligus mencatatkan rekor baru jumlah peserta. CEO PT Arutmin Indonesia, Ido Hutabarat, mengungkapkan lonjakan antusiasme yang luar biasa dibanding tahun sebelumnya.
“Setiap tahun antusiasme meningkat. Tahun lalu sekitar 3.000 peserta, tahun ini awalnya juga kami buka 3.000. Tapi ternyata masih banyak permintaan, akhirnya kami tambah hingga total 4.050 peserta. Di antaranya, 1.200 mengikuti half marathon, 2.000 di 10K, dan sekitar 850 di 5K,” ungkap Ido di sela kegiatan.
Ia juga menyoroti meningkatnya jumlah pelari baru, khususnya di kategori setengah maraton. Menurutnya, hal itu menjadi sinyal positif bahwa kesadaran masyarakat terhadap olahraga semakin tinggi.
“Kami sangat senang melihat banyak pelari baru. Ke depan, kategori 5K, 10K, dan half marathon akan tetap dipertahankan, tapi kualitas penyelenggaraan akan terus ditingkatkan,” lanjutnya.
ABR 2025 juga membuka ruang inklusif bagi pelajar dan peserta disabilitas. Tercatat, tiga pelari disabilitas ikut ambil bagian dan berhasil mencapai garis finis.
“Kami sangat menghargai semangat mereka. Ini membuktikan bahwa olahraga lari bisa menjadi ruang yang bersahabat untuk semua,” tambah Ido.
Di tengah ribuan peserta, salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Togap Rois Siregar. Untuk kedua kalinya ia turut memeriahkan ABR. Tahun ini ia turun di kelas 5K Master A dan berhasil naik podium.
“Luar biasa tahun ini. Saya ikut untuk kedua kalinya, dan alhamdulillah bisa naik podium. Persiapan saya lakukan sekitar sebulan sebelumnya, dan hasilnya maksimal,” ujarnya dengan senyum bangga.
Menurut Togap, Arutmin Borneo Run merupakan salah satu event lari terbesar dan paling bergengsi di Kalimantan Selatan.
“Antusiasmenya luar biasa, mungkin ini yang terbesar di Banua. Yang membedakan, ABR ini ada half marathon-nya, sementara event lain biasanya hanya 5K dan 10K. Tahun depan insyaallah saya naik ke 10K,” katanya penuh optimisme.
Seiring ribuan langkah yang berpacu di atas aspal Banua, Arutmin Borneo Run 2025 bukan hanya menjadi ajang kompetisi.
Lebih dari itu, ia telah menjelma menjadi simbol gaya hidup sehat, ruang pertemuan komunitas, dan bukti bahwa denyut olahraga lari di Kalimantan Selatan terus tumbuh kuat—semakin cepat, semakin besar, dan semakin membanggakan.
Editor : Sutrisno