Ajang lari tahunan yang digagas PT Arutmin Indonesia ini kian menegaskan posisinya sebagai barometer olahraga lari di Kalimantan Selatan, bahkan mulai disejajarkan dengan event-event besar di Pulau Jawa.
Manager SHEC PT Arutmin Indonesia, R. S. Subiyakto, mengungkapkan animo masyarakat tahun ini jauh melampaui ekspektasi awal panitia.
Baca Juga: Run Safe, Grow Stronger! Arutmin Borneo Run 2025 Kembali Menggetarkan Banjarbaru
Peningkatan paling mencolok terlihat pada kategori Half Marathon (21K) yang pesertanya melonjak dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
"Untuk kategori half marathon tahun lalu sekitar 600 peserta, sekarang meningkat menjadi kurang lebih 1.200 orang," ujarnya saat diwawancara usai sesi press conference dan sharing session di Novotel Airport, Banjarbaru, Jumat (21/11/2025) sore.
"Total peserta secara keseluruhan juga naik, dari sekitar 3.000 menjadi 4.050 orang tahun ini. Dan yang mengejutkan, kuota itu habis hanya dalam waktu sekitar lima menit," lanjutnya.
Baca Juga: KPK Pamerkan Tumpukan Uang Korupsi Taspen, Mantan Dirut Taspen Divonis 10 Tahun Penjara
Menurut Subiyakto, fakta tersebut menjadi bukti bahwa tren gaya hidup sehat dan minat masyarakat terhadap olahraga lari di Kalimantan Selatan sudah setara dengan daerah-daerah besar di Indonesia.
"Ini menunjukkan bahwa animo lari di Kalimantan Selatan sudah sangat tinggi, bahkan bisa dibilang mulai menyamai Jawa. ABR kini bukan lagi sekadar lomba, tapi sudah menjadi magnet bagi pelari dari berbagai daerah," tambahnya.
Tidak hanya menyasar pelari umum, ABR 2025 juga kembali membuka slot khusus untuk pelajar Kalimantan Selatan di kategori 5K.
Baca Juga: Pemkab Banjar Perjuangkan SK APL 332 Hektare untuk Legalitas Kawasan Permukiman Warga Aranio
Program ini dirancang sebagai bagian dari upaya pencarian dan pemantauan bibit atlet lari muda berbakat.
"Sejak awal, ABR merupakan bagian dari program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan," jelas Subiyakto.
Tapi lebih dari itu, kami juga ingin memfasilitasi pelajar untuk ikut terlibat, sekaligus menjadi ajang pencarian bibit unggul pelari jalan raya di Kalsel," sambungnya.
Baca Juga: BSI Dukung Kolaborasi Digitalisasi Layanan Haji Bersama Kementerian Haji
Tahun ini, ABR juga mencatat terobosan baru dengan penggunaan gun start (pistol start), sebuah metode start yang belum banyak digunakan dalam event lari di Kalimantan Selatan.
Hal tersebut menjadi bentuk pengakuan atas meningkatnya standar profesionalisme ABR.
"Tidak semua event mendapat izin menggunakan gun start. Ini menjadi salah satu bentuk kepercayaan dari PASI terhadap kualitas penyelenggaraan ABR," katanya.
Baca Juga: Rumah Ambruk dan Tenggelam, Keluarga Makunah Terpaksa Tinggal di Kontrakan Sempit 2 x 4 Meter
Sementara itu, Race Director ABR 2025, Safrita Aryana, menyebut meningkatnya jumlah pelari pemula menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelenggara.
Untuk itu, panitia telah menyiapkan program latihan terstruktur yang disosialisasikan melalui media sosial sejak pembukaan pendaftaran.
"Kami sadar banyak peserta yang baru pertama kali mencoba 10K atau bahkan half marathon. Karena itu kami siapkan program latihan bertahap sekitar 12 pekan sebelum lomba," tutur Safrita.
Kalau mereka disiplin mengikuti, insya Allah siap mencapai garis finis dengan kuat," imbuhnya.
Ia juga mengingatkan peserta agar memperhatikan faktor-faktor dasar seperti hidrasi, nutrisi, waktu istirahat, serta disiplin menjalani latihan.
"Jangan pernah melewatkan sesi minum, pastikan asupan gizi tercukupi, istirahat yang cukup, dan ikuti pola latihan dengan baik. Tujuannya agar seluruh runner bisa finish strong dan tetap aman," pesannya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno