Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjarmasin Pertanyakan Keputusan Wasit Sepak Bola Porprov Kalsel 2025, Ini Kata Pengawas Pertandingan

M Idris Jian Sidik • Senin, 10 November 2025 | 11:00 WIB

PERTANDINGAN: Perempat final antara Banjarmasin melawan Tanah Bumbu di Lapangan Datu Timang, Jorong, Minggu (9/11/2025) sore.
PERTANDINGAN: Perempat final antara Banjarmasin melawan Tanah Bumbu di Lapangan Datu Timang, Jorong, Minggu (9/11/2025) sore.
JORONG – Laga perempat final cabang olahraga sepak bola Porprov XII Kalimantan Selatan antara Kota Banjarmasin vs Kabupaten Tanah Bumbu yang berlangsung di Lapangan Datu Timang, Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Minggu (9/11/2025) sore, menyisakan tanda tanya besar bagi tim Banjarmasin.

Dalam laga yang berkesudahan dengan skor akhir 0-0 itu cukup untuk Tanah Bumbu lolos ke babak semifinal, sementara Banjarmasin gagal ke fase selanjutnya. 

Pelatih kepala Banjarmasin, Bambang Hermawan, menilai jalannya pertandingan sarat dengan kejanggalan dan keputusan wasit yang tidak konsisten sejak awal laga.

“Keanehan sudah terasa sejak menit ke-6. Banyak benturan keras yang seharusnya pelanggaran, tapi dibiarkan. Tapi giliran pemain kami yang sedikit menyentuh lawan, langsung disanksi. Ini benar-benar tidak konsisten,” ujar Om Bambang saat diwawancarai Senin (10/11/2025) pagi.

Menurutnya, salah satu insiden yang paling disorot adalah ketika seorang pemain Banjarmasin mengalami cedera engkel akibat sapuan keras tanpa bola dari pemain Tanah Bumbu.

“Itu jelas pelanggaran berat di luar permainan, seharusnya langsung kartu. Tapi wasit tidak melakukan apa-apa. Bahkan pemain kami harus ditandu keluar lapangan,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Tak berhenti di situ, Om Bambang juga menyoroti tambahan waktu yang dianggap tidak sesuai situasi di lapangan.

“Tambahan waktu hanya tiga menit, padahal ada tiga kali tandu dan beberapa kali permainan berhenti lama. Anehnya, waktu tambahan sudah diumumkan duluan padahal waktu normal belum habis. Ini sangat aneh,” tambahnya.

Sementara itu, manajer tim Abdul Fatah menilai ada banyak keputusan yang menimbulkan kecurigaan, termasuk soal penugasan wasit.

“Nama wasit yang bertugas kabarnya berubah mendadak sebelum pertandingan dimulai. Kami tidak tahu alasannya, tapi ini menimbulkan tanda tanya. Belum lagi ada kartu yang sempat mau dikeluarkan, tapi kemudian dibatalkan. Keputusan-keputusan seperti ini membuat kami merasa dirugikan,” tegas Abdul Fatah.

Meski begitu, pihak tim Banjarmasin menegaskan bahwa mereka tidak melakukan aksi protes berlebihan di lapangan dan menerima hasil pertandingan. Mereka hanya meminta agar perangkat pertandingan lebih profesional dan transparan dalam mengambil keputusan.

Di sisi lain, pengawas pertandingan, Ramadhan Arifin, memastikan hingga berita ini diterbitkan belum ada protes resmi yang diajukan oleh tim Banjarmasin.

“Secara resmi tidak ada pengajuan protes tertulis dari tim Banjarmasin. Protes bisa dilakukan, tapi tentu tidak bisa mengubah hasil atau skor pertandingan,” ujarnya saat dikonfirmasi. 

Ramadhan menjelaskan, mekanisme protes sudah diatur dalam Peraturan Teknis dan Hukum Bertanding (THB).

“Prosedurnya jelas. Pertama, tim yang ingin protes harus membayar biaya administrasi sebesar Rp5 juta sesuai aturan THB. Kedua, protes harus diajukan secara tertulis dalam bentuk file PDF. Dan ketiga, berkas itu dikirimkan ke matchcom serta ke email resmi PSSI Kalsel di kasel@pssi.org,” paparnya.

Ia menegaskan, panitia siap menampung setiap protes yang masuk selama sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Pada dasarnya kami terbuka. Silakan ajukan sesuai prosedur, pasti akan kami tindak lanjuti secara resmi,” tutupnya.

Editor : Sutrisno
#banjarmasin #Tanah Bumbu #Kalsel #porprov