BANJARMASIN – Polemik muncul menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Selatan di Tanah Laut.
Orang tua salah satu atlet dari kontingen Banjarmasin, Khadijah (48) mengaku kecewa.
Ia menyebut putranya, Aryfa Brimob Syarial (16) yang akan bertanding di cabor renang mendapat diskriminasi.
Khadijah menilai Aryfa tidak mendapat perlakuan adil dari pelatih. Mulai dari pembagian nomor lomba, fasilitas penginapan, hingga transparansi uang saku atlet. Semuanya ia sebut janggal.
"Anak saya awalnya dijanjikan turun di beberapa nomor, tapi pas hari pertandingan malah diganti. Katanya supaya adil dibagi, tapi kenapa diubah tanpa penjelasan?" keluh Khadijah kepada wartawan, Selasa (28/10).
Dia bahkan menduga ada faktor kedekatan antara pelatih dan beberapa orang tua atlet lain.
"Saya tidak menuduh ya, tapi tolonglah, kalau mau adil jangan karena dekat pelatih baru bisa dimainkan," katanya.
Ia juga menyoal tempat penginapan yang tidak layak. Padahal atlet perlu istirahat dengan tenang. "Rumahnya bau rokok! Akhirnya anak saya menginap di tempat lain," bebernya.
Selain itu, ia mengaku tidak pernah menerima informasi terkait uang transportasi dan uang saku atlet. "Kami para orang tua tidak tahu sama sekali soal uang saku. Seharusnya ada keterbukaan," tambahnya.
Ia berharap ke depan ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan atlet. "Saya bukan ingin anak saya diistimewakan, saya cuma minta sistemnya adil," tutupnya.
Merespons keluhan itu, pelatih cabor renang kontingen Banjarmasin, Juhriannor menegaskan bahwa tudingan pilih kasih itu tidak benar.
Menurutnya, setiap keputusan yang diambil tim pelatih berdasarkan evaluasi teknis dan kondisi fisik atlet, bukan karena kedekatan personal.
"Kami menimbang banyak aspek, mulai kemampuan teknik, daya tahan, kesiapan mental, hingga kondisi fisik. Tidak mungkin kami asal menurunkan atlet," tegasnya.
Diingatkannya, tim pelatih memiliki tanggung jawab besar terhadap target medali yang sudah ditetapkan.
"Kami membawa nama Banjarmasin. Target prestasi itu berat, jadi semua keputusan harus melalui pertimbangan matang," jelasnya.
Juhriannor berharap para orang tua atlet dapat memahami posisi dan beban tanggung jawab yang diemban pelatih.
"Kami butuh dukungan, bukan kecurigaan. Semangat anak-anak jangan sampai turun hanya karena isu yang belum tentu benar," ujarnya.
Ia menuntut komunikasi yang terbuka antara pelatih, atlet, dan orang tua. "Kami selalu terbuka untuk dialog. Kalau ada keluhan, silakan dibicarakan langsung. Intinya, kita sama-sama ingin renang Banjarmasin makin maju," tandasnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief