Menembus Asap Demi Kemanusiaan: Muhammad Hamidi, Mitra Gojek Banjarmasin di Garis Depan Karhutla

Nurhidayat • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 13:10 WIB
GARIS DEPAN: Mitra Driver Gojek dari komunitas relawan ETB Rescue Banjarbaru membantu pemadaman bersama tim Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkar Pemkot Banjarbaru.
GARIS DEPAN: Mitra Driver Gojek dari komunitas relawan ETB Rescue Banjarbaru membantu pemadaman bersama tim Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkar Pemkot Banjarbaru.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti Kalimantan, deru mesin sepeda motor tak hanya menjadi penanda perjuangan mencari nafkah. Bagi Muhammad Hamidi, Mitra Driver Gojek di Banjarbaru, jaket hijau yang dikenakannya setiap hari juga menjadi simbol tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan masyarakat di tanah kelahirannya.

Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Kalimantan, asap tebal tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk para mitra driver yang sehari-hari harus berada di jalan.

Kondisi tersebut turut dirasakan Hamidi. Suatu pagi ketika berkendara, ia melihat asap sudah begitu mengganggu aktivitas para mitra driver maupun masyarakat lainnya. Dari situ muncul dorongan dalam dirinya untuk ikut berkontribusi membantu mengatasi persoalan asap akibat karhutla.

“Suatu pagi ketika saya berkendara, asap ini sudah mengganggu kami para Mitra Driver, dan pastinya aktivitas masyarakat lainnya. Hati saya tergerak untuk bisa berkontribusi untuk membantu menyelesaikan masalah asap ini,” cerita Hamidi.

Dorongan tersebut kemudian diwujudkan dengan bergerak bersama komunitas relawan Emergency Tanggap Bencana (ETB) Rescue Banjarbaru. Komunitas ini didominasi oleh para mitra driver Gojek yang memiliki semangat untuk turut membantu dalam situasi kebencanaan.

Bersama komunitasnya, Hamidi turun ke lapangan dan berkolaborasi dengan tim Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkar Pemkot Banjarbaru serta jaringan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) di bawah naungan Barres 698.

Bagi Hamidi, penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi yang terstruktur. Pengalaman dan pelatihan yang pernah diperolehnya saat bekerja di instansi pemadam kebakaran swasta menjadi bekal dalam memahami pentingnya koordinasi ketika berada di lapangan.

“Ilmu dan pelatihan yang saya dapatkan sewaktu bekerja di Instansi Pemadam Kebakaran Swasta mengajari saya satu hal penting, penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi yang terstruktur,” ujar Hamidi.

Menurutnya, keterlibatan para relawan harus tetap berjalan berdampingan dengan tim pemadam setempat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar aksi di lapangan dapat berjalan tepat sasaran sekaligus tetap memperhatikan keamanan.

“Bergerak berdampingan dengan tim Damkar setempat memastikan aksi kami di lapangan berjalan tepat sasaran dan aman. Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing. Kami mengambil peran mendampingi dan menyokong di lapangan,” katanya.

Hamidi dan rekan-rekan relawan kemudian ikut mendampingi armada pemadam menuju titik-titik api yang membara di area Banjarbaru dan sekitarnya.

Di tengah kondisi karhutla, mereka harus menghadapi asap dan medan yang tidak selalu mudah. Salah satu bentuk dukungan yang dilakukan adalah membantu membentangkan selang air serta ikut menembus medan sulit yang tidak dapat dilalui mobil besar.

Keberadaan para mitra ojol yang tergabung dalam komunitas relawan tersebut menjadi bagian dari upaya saling mendukung dalam penanganan karhutla. Mereka mengambil peran sesuai kemampuan yang dimiliki untuk membantu petugas dan mendukung proses pemadaman di lapangan.

Bagi Hamidi, penanganan persoalan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan kepedulian dan keterlibatan berbagai pihak dengan peran yang sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Ia pun berharap langkah yang dilakukan bersama rekan-rekannya dapat mendorong pihak lain untuk ikut mengambil bagian dalam menghadapi persoalan karhutla.

“Harapannya langkah ini mendorong pihak-pihak lain untuk ikut mengambil bagian, berkontribusi sesuai dengan keahlian dan peran proper yang mereka miliki demi menjaga Banua,” ujar Hamidi.

Semangat kepedulian dan saling menjaga tersebut juga tercermin dari dukungan Gojek dan Yayasan GoTo Merah Putih (YGMP). Dukungan diberikan melalui voucher belanja kebutuhan sehari-hari di Alfamart, serta menyiagakan masker dan vitamin di Rumah Mitra.

Dukungan tersebut menjadi tambahan semangat bagi Hamidi dan para mitra driver untuk tetap bergerak di tengah kondisi karhutla yang berdampak terhadap aktivitas sehari-hari.

Bagi Hamidi, aktivitas mengaspal untuk mencari nafkah bagi keluarga merupakan sebuah kewajiban. Namun, ketika kondisi bencana membutuhkan kepedulian dan bantuan, ia merasa memiliki panggilan untuk turut membantu sesama.

Di tengah kepulan asap dan ketebalan debu akibat karhutla, Hamidi bersama rekan-rekannya memilih untuk mengambil bagian. Bukan untuk menggantikan peran petugas, melainkan hadir sebagai bagian dari solidaritas masyarakat yang ikut mendukung penanganan bencana.

Semangat tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan sesama dapat hadir dari berbagai kalangan. Di balik kemudi sepeda motor dan aktivitasnya sebagai Mitra Driver Gojek, Hamidi mengambil peran untuk membantu menjaga tanah Banua ketika karhutla terjadi.

Bagi Hamidi, mencari nafkah untuk keluarga adalah kewajiban. Namun ketika sesama membutuhkan bantuan, kemanusiaan menjadi panggilan nurani yang mendorongnya untuk ikut bergerak.

Editor : Nurhidayat
asap karhutla karhutla Gojek 24 banjarbaru