Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pantai Utara Jawa Kritis, Puluhan Desa di Pesisir Rentan Tenggelam

admin • Selasa, 30 Juni 2026 | 20:56 WIB
ABRASI: Ilustrasi abrasi yang terjadi di Pantai Trisik, di Desa Banaran, Galur, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. (Radar Jogja)
ABRASI: Ilustrasi abrasi yang terjadi di Pantai Trisik, di Desa Banaran, Galur, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. (Radar Jogja)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, JAKARTA - Krisis iklim global semakin berdampak pada kawasan pesisir Indonesia, terutama desa-desa yang ada di dekat pantai. Dampaknya tidak hanya terasa pada potensi hilangnya desa. Namun, hilangnya kehidupan normal anak-anak pesisir akibat pembangunan yang abai terhadap lingkungan.

Laporan terbaru Children’s Climate Risk Report 2026 dari UNICEF menunjukkan, hampir seluruh anak di dunia kini terpapar risiko iklim. Sedikitnya 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus. Yakni, kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang panas.

Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI, menuturkan bahwa anak-anak berada di garis paling depan dalam menghadapi bencana ini. “Sedikitnya 33 juta anak terdampak banjir pesisir dan 337 juta terdampak banjir sungai. Kerentanan mereka semakin kompleks karena faktor usia, gender, dan kondisi disabilitas, terutama saat harus mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian,” ujar Mida, Senin (29/6).

Kondisi memprihatinkan ini salah satunya tergambar jelas di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa. Kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2026 mencatat, 65,8 persen wilayah pesisir telah mengalami erosi parah sejak tahun 2000 hingga 2024. Kondisi ini kian diperparah oleh fenomena penurunan muka tanah.

Tekanan lingkungan dan ekonomi di wilayah Pantura ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memukul kondisi psikologis anak-anak. “Mereka terpaksa tumbuh dalam situasi yang mengancam kesehatan, pendidikan, dan masa depan,” tambah Mida.

Salah satu wilayah yang berada dalam kondisi paling kritis adalah Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data WALHI Jawa Tengah, dari 341 desa pesisir yang tersebar di 17 kabupaten/kota, sebanyak 96,6 persen di antaranya masuk dalam kategori rentan bencana iklim.

Kecamatan Sayung di Kabupaten Demak menjadi titik mati pertarungan melawan alam. Banjir rob telah merendam sedikitnya 1.266 hektarr lahan di wilayah tersebut. Warga di Desa Sriwulan, Bedono, dan Sidogemah bahkan harus meninggikan rumah mereka setiap beberapa tahun sekali agar tidak tenggelam.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan Desa Bedono sebenarnya adalah desa terluas di Kecamatan Sayung dengan luas mencapai 739 hektare. Namun, riset spasial WALHI Jawa Tengah pada 2024 menemukan fakta mencengangkan, daratan Desa Bedono kini menyusut drastis dan hanya tersisa 94,33 hektare saja.

Akibatnya, sejumlah dusun hilang dari peta dan warganya terpaksa angkat kaki, antara lain Dusun Tambaksari (tenggelam dalam rentang 1999–2000), Dusun Rejosari / Senik (tenggelam pada 2006), Dusun Mondoliko (tenggelam pada 2023).

Kehilangan daratan yang masif ini dipicu oleh kombinasi fatal antara kenaikan muka air laut yang mencapai ± 15,5 cm per tahun dan penurunan muka tanah yang berkisar antara 7–21 cm per tahun.

Editor : Arief
#iklim #lingkungan hidup