Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kepadatan di Mina Masih Jadi Persoalan, Timwas Haji Usulkan Skema Tanazul

admin • Sabtu, 30 Mei 2026 | 13:38 WIB
 Jemaah haji sedunia memadati jalanan di Mina, Arab Saudi, untuk melontar jumrah Aqabah, Rabu (27/5) waktu Arab Saudi. (Media Centeer Haji 2026)
Jemaah haji sedunia memadati jalanan di Mina, Arab Saudi, untuk melontar jumrah Aqabah, Rabu (27/5) waktu Arab Saudi. (Media Centeer Haji 2026)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, JAKARTA – Persoalan kepadatan jemaah di Mina masih menjadi tantangan utama yang perlu segera mendapatkan solusi. Hal ini disampaikan Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Marwan Dasopang.

Ia mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Namun, ia menilai kondisi di Mina masih belum ideal bagi kenyamanan jemaah. “Kondisi di Mina masih menjadi tantangan utama. Kapasitas tenda dan area yang tersedia belum mampu memberikan ruang yang cukup nyaman bagi seluruh jemaah. Kepadatan masih terjadi dan dirasakan langsung oleh jemaah,” kata Marwan, Jumat (29/5).

Marwan juga menyoroti sejumlah fasilitas di Mina yang dinilai belum berfungsi optimal. Beberapa persoalan yang dikeluhkan jemaah antara lain pendingin udara atau AC yang tidak bekerja maksimal hingga ketersediaan air yang belum memadai di sejumlah titik.

“Kita menerima berbagai masukan terkait fasilitas di Mina. Ada persoalan AC yang tidak berfungsi optimal, ketersediaan air yang kurang memadai, serta berbagai kendala lain yang muncul akibat tingginya kepadatan jemaah dalam satu kawasan yang sangat terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan yang terus berulang setiap musim haji itu membutuhkan langkah baru dan terobosan kebijakan agar kondisi Mina bisa lebih nyaman dan aman bagi para jemaah.

Ia menilai, opsi perluasan area Mina kemungkinan sulit dilakukan karena keterbatasan lahan. Karena itu, pemerintah perlu mulai mengkaji alternatif lain, termasuk pembangunan tenda bertingkat maupun penataan ulang sistem penempatan jemaah.

“Kita harus mulai memikirkan formula baru. Jika area Mina memang tidak bisa diperluas, maka perlu dipertimbangkan berbagai opsi seperti tenda bertingkat atau skema lain yang memungkinkan ruang bagi jemaah menjadi lebih longgar dan manusiawi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Marwan juga mengusulkan penerapan skema tanazul bagi sebagian jemaah Indonesia yang lokasi hotelnya masih memungkinkan untuk dijadikan tempat mabit selama di Mina. Skema tanazul memungkinkan jemaah tidak menginap di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel atau akomodasi yang telah ditentukan.

Ia memperkirakan sekitar 60 ribu jemaah Indonesia berpotensi mengikuti skema tersebut sehingga kepadatan di Mina dapat dikurangi secara signifikan. “Dari sekitar 201 ribu jemaah Indonesia, mungkin ada sekitar 60 ribu jemaah yang dapat dipertimbangkan untuk mabit di hotel dengan pengaturan yang baik dan tetap sesuai ketentuan yang berlaku. Jika ini dapat diwujudkan, ruang di Mina akan jauh lebih longgar bagi jemaah yang tetap berada di tenda,” jelasnya.

Ia menegaskan, penerapan skema tanazul membutuhkan kajian yang matang, sistem pengorganisasian yang baik, serta persetujuan dari Pemerintah Arab Saudi. Oleh karena itu, ia berharap kehadiran Kementerian Haji dan Umrah RI dapat berperan aktif menjalin komunikasi dengan otoritas Saudi guna mencari solusi jangka panjang. “Kita harus berani mencari terobosan demi meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah Indonesia,” pungkasnya. 

Editor : Arief
#haji