RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, JAKARTA - Baru dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh. Jumhur Hidayat langsung menggeber arah kebijakan baru. Salah satu fokus utamanya adalah memasukkan etika lingkungan ke dalam kurikulum pendidikan sejak dini.
Menurut Jumhur, penanaman environmental ethics menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan di masa depan. Kesadaran menjaga lingkungan, kata dia, harus dibangun sejak bangku sekolah hingga perguruan tinggi.
“Kalau etika lingkungan sudah tertanam sejak dini, maka dalam kondisi apa pun seseorang akan tetap menjaga lingkungan, bahkan saat memimpin perusahaan besar,” tegasnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
Tak hanya soal pendidikan, Jumhur juga menyoroti praktik investasi di Indonesia. Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi tidak boleh lagi mengorbankan kelestarian lingkungan.
Ke depan, pemerintah tetap membuka ruang bagi industri untuk berkembang, namun dengan syarat utama: patuh terhadap standar lingkungan.
“Industri tetap jalan, tapi standar lingkungan harus dipatuhi,” ujarnya.
Di internal kementerian, Jumhur meminta seluruh jajaran memperkuat kolaborasi dan menghadirkan terobosan nyata di lapangan. Ia menekankan pentingnya ide segar dari pegawai agar kebijakan dapat berjalan efektif.
“Berikan gagasan terbaik dan pastikan kita bergerak bersama sesuai arahan Presiden,” katanya.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup periode 2024–2026 yang kini menjabat Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengakui masih ada sejumlah pekerjaan rumah di sektor lingkungan yang belum tuntas.
Meski demikian, ia optimistis kepemimpinan Jumhur mampu mempercepat penyelesaian berbagai persoalan tersebut.
“Dengan pengalaman yang dimiliki Pak Menteri, saya yakin pengelolaan dan pengendalian lingkungan hidup akan semakin baik dan cepat,” ujarnya.
Editor : Eddy Hardiyanto