BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menunjukkan posisi strategisnya sebagai kampus berbasis riset yang mampu menghadirkan solusi konkret atas persoalan lingkungan, khususnya sampah plastik residu. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), ULM mengembangkan teknologi pemrosesan sampah plastik yang kini berhasil mengubah limbah tak bernilai menjadi produk komposit berkualitas tinggi, mulai dari papan, balok, kusen hingga furnitur.
Ketua LPPM ULM, Prof. Sunardi, menjelaskan bahwa inovasi ini berjalan melalui program “Sampah Kampus Selesai di Kampus” yang secara khusus menyasar sampah kategori low value, seperti bungkus makanan ringan, plastik multilayer, plastik campuran, serta residu lain yang selama ini tidak diminati pemulung karena sulit didaur ulang.
Terobosan utama ULM terletak pada reaktor pelelehan sistem vertikal yang telah resmi dipatenkan. Alat ini merupakan hasil riset tim ULM bersama mitra rekayasa produk dari Klaten. Reaktor berteknologi tinggi ini mampu melebur sampah plastik residu tanpa proses pencucian dan tanpa menghasilkan biosin, sehingga operasi lebih aman dan ramah lingkungan.
“Semua jenis plastik residu, sekalipun paling kotor, langsung dipilah menggunakan alat pemilah otomatis. Sampah organik dialihkan untuk budidaya maggot dan cacing, sementara plastik langsung masuk ke reaktor untuk dilelehkan,” jelas Sunardi.
Satu unit reaktor yang dimiliki ULM saat ini memiliki nilai investasi Rp500–Rp600 miliar dan mampu mengolah hingga 10 ton sampah plastik per hari. Kapasitas ini dinilai cukup untuk menyelesaikan seluruh sampah plastik di lingkungan Kampus ULM Banjarmasin dan Banjarbaru secara mandiri.
Dari proses pelelehan, ULM menghasilkan material komposit berbasis plastik yang memiliki karakteristik menyerupai kayu. Produk komposit ini kemudian diproses menjadi papan, balok, hingga kusen.
Kualitasnya bahkan telah diuji memiliki kekuatan setara kayu kelas 2, yakni setara kayu meranti. Komposit ini juga memiliki sejumlah keunggulan, yaitu Anti rayap, Tahan zat asam dan bahan kimia, Tahan cuaca dan memiliki masa pakai panjang, Tidak menyerap air, dan Tidak lapuk.
Sebagai contoh, satu set meja dan kursi yang diproduksi dari 300 kilogram sampah plastik residu dapat dijual dengan harga sekitar Rp1 juta.
“Kami buktikan bahwa sampah yang selama ini menumpuk di TPA justru bisa menjadi produk furnitur bernilai ekonomi tinggi,” ungkap Prof Sunardi sambil menunjukkan contoh produk eco-wood hasil inovasi tim.
Selain melayani kebutuhan internal kampus, ULM menegaskan kesiapan untuk bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota dalam penerapan teknologi pengolahan sampah plastik secara sistematis.
“Kami sangat siap bermitra. Tim ahli dan teknologi kami bisa membantu daerah yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap TPA dan ingin membangun pengolahan sampah yang mandiri,” ujar Sunardi.
ULM juga mendorong implementasi teknologi secara lebih luas agar masalah sampah plastik dapat dikendalikan di tingkat kota hingga provinsi. Salah satu alat pemilah sampah otomatis juga tengah disiapkan untuk integrasi sistem pengolahan sampah secara penuh.
“ULM ingin hadir sebagai universitas yang berdampak nyata, bukan hanya menghasilkan riset, tetapi memberi solusi langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Nurhidayat