Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Awal Ramadan Berpotensi Berbeda, Muhammadiyah Gunakan Hilal Global

admin • Sabtu, 7 Februari 2026 | 14:07 WIB
RUKYATUL HILAL: Kemenag Kalsel saat melakukan pantauan awal Ramadan dengan metode rukyatul hilal. (Muhammad Oscar Fraby)
RUKYATUL HILAL: Kemenag Kalsel saat melakukan pantauan awal Ramadan dengan metode rukyatul hilal. (Muhammad Oscar Fraby)

JAKARTA – Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memprediksi Ramadan 1447 H di Indonesia akan jatuh pada 19 Februari 2026. Hal itu berdasarkan pada posisi "hilal lokal" pada 17 Februari mendatang.

Thomas menerangkan, Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam selama ini memang menggunakan kriteria hilal lokal untuk menentukan awal Ramadhan.

“Pada saat Magrib 17 Februari posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,” ujarnya, Kamis (5/2).

Dengan begitu, Thomas menyebut bahwa prediksi jatuhnya awal Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026. Hal ini pun akan terjadi perbedaan dengan putusan Muhammadiyah yang menggunakan "hilal global".

"Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan 'hilal lokal dan hilal global'," katanya.

Ia menjelaskan, Muhammadiyah menggunakan "hilal global", yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan.

"Pada 17 Februari posisi hilal/bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadhan ditetapkan 18 Februari 2026," jelasnya.

Editor : Arief
#ramadan