Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto menyatakan penanganan bencana saat ini difokuskan pada operasi pencarian dan pertolongan, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolir, serta percepatan distribusi logistik melalui jalur darat dan udara.
Memasuki hari ketiga status tanggap darurat, tercatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih hilang di Provinsi Sumatera Utara. Dampak terparah terjadi di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga.
"Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian oleh tim gabungan yang dipimpin Basarnas," kata Suharyanto, Minggu (30/11).
Selain korban jiwa, ribuan warga terpaksa mengungsi akibat kerusakan pemukiman dan terputusnya akses. Jalur nasional Sibolga–Padang Sidempuan serta Sibolga–Tarutung putus total dan tertutup longsor.
Dalam mempercepat upaya penanganan, BNPB mengerahkan lima helikopter yang ditempatkan di Bandara Silangit. Helikopter BNPB, Heli TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5, serta helikopter bantuan swasta telah aktif menyalurkan logistik. Pesawat Cessna Caravan juga digunakan untuk pengiriman bantuan dan personel.
Tahap pertama distribusi logistik untuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan telah terpenuhi 100 persen. Sementara distribusi ke Mandailing Natal masih terkendala akses darat.
Sementara, pada hari kedua tanggap darurat, Provinsi Aceh melaporkan 47 korban meninggal dunia, 51 orang hilang, dan 8 luka-luka. Sebanyak 48.887 kepala keluarga mengungsi, terutama di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.
Kerusakan jembatan dan jalan nasional memutus sejumlah jalur utama, termasuk Banda Aceh–Lhokseumawe dan jalur perbatasan Aceh–Sumut di Aceh Tamiang. Beberapa wilayah seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah masih belum bisa diakses melalui darat.
BNPB telah mengaktifkan komunikasi darurat berbasis satelit Starlink dan mengerahkan helikopter serta pesawat Cessna Caravan untuk mendistribusikan logistik ke wilayah terisolir.
"Bantuan Presiden berupa alat komunikasi, tenda, genset, perahu karet, makanan siap saji, dan perlengkapan keluarga sudah tiba di Aceh dan disalurkan ke 17 kabupaten/kota terdampak," ucapnya.
Dua hari setelah status tanggap darurat ditetapkan, lanjut Suharyanto, Sumatera Barat mencatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 luka-luka. Agam menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak.
Sebanyak 11.820 keluarga (77.918 jiwa) mengungsi, terutama di Kota Padang dan Pesisir Selatan. Sejumlah jalur provinsi dan nasional terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan.
Meski begitu, distribusi bantuan dari Padang Pariaman dan Pesisir Selatan telah tiba di sejumlah titik, dengan 8 lokasi tambahan dalam proses pengiriman.
Bantuan Presiden berupa alat komunikasi, genset, tenda, LCR, dan makanan siap saji telah tiba di Bandara Minangkabau. "Pesawat Caravan dan helikopter Bell 505 juga digunakan untuk menjangkau wilayah yang belum dapat dilalui darat," tuturnya.
"Prioritas utama meliputi pembukaan akses yang terputus, pendataan lanjutan korban dan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak di tiga provinsi tersebut," pungkasnya.
Editor : Muhammad Rizky