Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dea Lipa Bongkar Masa Kecilnya yang Kelam dan Tegaskan Penampilannya Bukan untuk Menjebak

M. Ramli Arisno • Senin, 17 November 2025 | 11:17 WIB

SOSOK: Muncul ke hadapan publik, Dea Lipa ceritakan kisah masa kecil yang kelam.
SOSOK: Muncul ke hadapan publik, Dea Lipa ceritakan kisah masa kecil yang kelam.
BANJARMASIN — Deni Apriadi Rahman, yang dikenal luas dengan nama panggung Dea Lipa, akhirnya tampil dan memberikan penjelasan terkait perjalanan hidup serta kontroversi yang menyeret namanya di media sosial.

Sosok yang belakangan viral karena penampilan feminin ini menegaskan bahwa persepsi publik kerap keliru tentang dirinya.

Di lini masa, Dea Lipa kerap dijuluki “Sister Hong Lombok”, sebuah sebutan yang ia anggap tidak pantas dan sangat merugikan.

Baca Juga: Istri Wiranto, Rugaiya Usman, Wafat Usai Dirawat Intensif di Jakarta dan Bandung pada Minggu Sore

Julukan tersebut merujuk pada kasus sensasional di Tiongkok yang melibatkan seorang pria bernama Jiao, atau dikenal sebagai Sister Hong, yang menyamar sebagai perempuan dan melakukan penipuan serta skandal seksual hingga akhirnya ditangkap pada 2025 di Nanjing.

Dea Lipa menolak keras asosiasi tersebut. Ia menyatakan bahwa penampilannya sama sekali bukan untuk menipu atau menjerumuskan orang lain.

“Penampilan saya adalah ekspresi diri dan bagian dari profesi saya sebagai artis. Sama sekali bukan untuk menjebak siapa pun,” tegasnya.

Baca Juga: Sosok Guru Tuha: Hadirkan NU ke Tanah Kalimantan, Wariskan Adab untuk Para Pembelajar

Dalam penjelasannya, Dea Lipa mengungkap masa kecil penuh tekanan.

Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh dan menjalani hidup tanpa kehadiran orang tua, yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.

Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dari pihak ibu. “Sejak kecil saya tinggal bersama nenek dari pihak ibu, karena kedua orang tua saya bekerja sebagai tenaga migran,” tuturnya.

Baca Juga: Koperasi Merah Putih di Banjarmasin Mangkrak, Gegara Terkendala Akses Pinjaman Modal

Kesulitan itu semakin diperparah dengan pengalaman perundungan (bullying) yang ia alami sejak kecil.

Dea Lipa juga hidup dengan disabilitas pendengaran sejak lahir, kondisi yang kemudian memburuk setelah ia mengalami kecelakaan saat berusia 10 tahun.

“Sejak kecil saya hidup dengan keterbatasan pendengaran, yang semakin memburuk setelah saya mengalami kecelakaan ketika berusia sekitar 10 tahun,” jelasnya.

Baca Juga: Gelaran Perdana Banjarbaru Street Art Festival: Ribuan Warga Kelurahan Syamsudin Noor Meriahkan Parade Kreatif

Ia berharap keterbukaannya mampu meluruskan kesalahpahaman publik sekaligus mengakhiri stigmatisasi terhadap dirinya.

Dea Lipa menegaskan bahwa perjalanan hidupnya penuh tantangan, namun ia memilih bertahan dan mengekspresikan diri melalui seni dan penampilan yang selama ini membentuk identitasnya. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
#sister hong lombok #Viral Banjarmasin #Masa kecil kelam #Dea Lipa klarifikasi #Disabilitas pendengaran