Sosok yang belakangan viral karena penampilan feminin ini menegaskan bahwa persepsi publik kerap keliru tentang dirinya.
Di lini masa, Dea Lipa kerap dijuluki “Sister Hong Lombok”, sebuah sebutan yang ia anggap tidak pantas dan sangat merugikan.
Baca Juga: Istri Wiranto, Rugaiya Usman, Wafat Usai Dirawat Intensif di Jakarta dan Bandung pada Minggu Sore
Julukan tersebut merujuk pada kasus sensasional di Tiongkok yang melibatkan seorang pria bernama Jiao, atau dikenal sebagai Sister Hong, yang menyamar sebagai perempuan dan melakukan penipuan serta skandal seksual hingga akhirnya ditangkap pada 2025 di Nanjing.
Dea Lipa menolak keras asosiasi tersebut. Ia menyatakan bahwa penampilannya sama sekali bukan untuk menipu atau menjerumuskan orang lain.
“Penampilan saya adalah ekspresi diri dan bagian dari profesi saya sebagai artis. Sama sekali bukan untuk menjebak siapa pun,” tegasnya.
Baca Juga: Sosok Guru Tuha: Hadirkan NU ke Tanah Kalimantan, Wariskan Adab untuk Para Pembelajar
Dalam penjelasannya, Dea Lipa mengungkap masa kecil penuh tekanan.
Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh dan menjalani hidup tanpa kehadiran orang tua, yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dari pihak ibu. “Sejak kecil saya tinggal bersama nenek dari pihak ibu, karena kedua orang tua saya bekerja sebagai tenaga migran,” tuturnya.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih di Banjarmasin Mangkrak, Gegara Terkendala Akses Pinjaman Modal
Kesulitan itu semakin diperparah dengan pengalaman perundungan (bullying) yang ia alami sejak kecil.
Dea Lipa juga hidup dengan disabilitas pendengaran sejak lahir, kondisi yang kemudian memburuk setelah ia mengalami kecelakaan saat berusia 10 tahun.
“Sejak kecil saya hidup dengan keterbatasan pendengaran, yang semakin memburuk setelah saya mengalami kecelakaan ketika berusia sekitar 10 tahun,” jelasnya.
Ia berharap keterbukaannya mampu meluruskan kesalahpahaman publik sekaligus mengakhiri stigmatisasi terhadap dirinya.
Dea Lipa menegaskan bahwa perjalanan hidupnya penuh tantangan, namun ia memilih bertahan dan mengekspresikan diri melalui seni dan penampilan yang selama ini membentuk identitasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno