JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan reshuffle kabinet merah putih. Selain itu, Prabowo juga menunjuk Jenderal (Purn) Ahmad Dofiri sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Kamtibnas dan Reformasi Kepolisian.
Dhofiri dilantik secara sederhana di Istana Negara, namun sarat makna. Pelantikan Dofiri diharap memenuhi keinginan publik yang kian kuat menuntut perubahan di tubuh Polri, terutama setelah gelombang aksi unjuk rasa pada 25–31 Agustus 2025.
Dofiri baru saja memasuki masa purna tugas, namun dipercaya Presiden Prabowo Subianto masuk ke jajaran Pemerintahan. Dofiri memang tak sepopuler dengan kasus-kasus yang pernah ia tangani. Namun, di internal Kepolisian, Dofiri dikenal kosisten dan disiplin dalam membina SDM di tubuh Polri.
Lahir di Indramayu, Jawa Barat, 4 Juni 1967, Dofiri memulai jalan panjangnya dari titik nol. Lulus Akademi Kepolisian tahun 1989 sebagai peraih Adhi Makayasa, ia menegaskan minatnya di bidang reserse dan pengembangan SDM. Pendidikan lanjutan ia tempuh di PTIK, Sespim, hingga Sespimti.
Sebagian besar perjalanan kariernya ditempa di lapangan: Kapolres Bandung (2007), Kapoltabes Yogyakarta (2009), Kapolda Banten, Kapolda DIY, hingga Kapolda Jawa Barat. Kariernya berlanjut ke Mabes Polri, menjabat Karobinkar SSDM (2014), Asisten Logistik Kapolri (2019), lalu Kepala Baintelkam (2021). Pada Februari 2023, ia dipercaya sebagai Irwasum Polri, jabatan yang erat kaitannya dengan pengawasan internal dan disiplin anggota.
Nama Ahmad Dofiri makin dikenal publik ketika memimpin sidang etik yang berujung pada pemecatan Ferdy Sambo, perwira tinggi dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Keputusan itu bukan sekadar tindakan administratif, melainkan simbol ketegasan Polri di tengah sorotan publik yang kala itu merosot kepercayaannya.
Selepas menjabat Irwasum, karier Dofiri kian menanjak. Pada November 2024, ia dipercaya sebagai Wakapolri mendampingi Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ia pensiun pada Juni 2025, sebelum akhirnya kembali dipanggil tiga bulan kemudian oleh Presiden Prabowo. Sebelum resmi dilantik sebagai penasihat khusus, Dofiri dianugerahi kenaikan pangkat jenderal kehormatan.
Kini, selain menjadi penasihat khusus, Dofiri juga ditugaskan memimpin Tim Reformasi Polri. Dari kampung halaman di Indramayu hingga ke lingkaran istana, dari perwira lapangan hingga pucuk karier di Mabes, perjalanan Dofiri mencerminkan satu hal: bagi negara, ia bukan sekadar jenderal polisi, melainkan figur yang dipercaya mengawal wajah baru kepolisian Indonesia.
Di tengah reshuffle kabinet jilid dua yang menegaskan arah baru pemerintahan Prabowo, publik kini menunggu apakah Dofiri bisa menunaikan mandat besar: menjawab harapan perubahan di tubuh Polri.
Editor : Fauzan Ridhani