Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tokoh Banjar yang Terlupakan dalam Penulisan Sejarah Versi Kementerian Kebudayaan

M Fadlan Zakiri • Minggu, 17 Agustus 2025 | 10:49 WIB
Keterlibatan dua tokoh Banjar ini luput dari penulisan sejarah resmi. (Sumber foto Wikipedia) 
Keterlibatan dua tokoh Banjar ini luput dari penulisan sejarah resmi. (Sumber foto Wikipedia) 

 


BANJARBARU - Tidak banyak yang tahu, bahwa ada dua tokoh asal Banua, punya peran penting dalam momen bersejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Mereka adalah Pangeran Mohammad Noor (PM Noor) dan Anang Abdul Hamidhan (AA Hamidhan).

Dosen dan peneliti sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mursalin menilai kontribusi kedua pahlawan nasional ini jarang disebut.

“Padahal kiprah mereka dalam proses proklamasi layak disorot,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (15/8).

Mursalin mengungkap, peran PM Noor dan Anang Abdul Hamidhan bahkan tidak muncul dalam draf Buku Sejarah Indonesia tahun 2025 yang disusun Kementerian Kebudayaan.

Terungkap saat Diskusi Publik terkait draft Penulisan Buku Sejarah Indonesia tahun 2025 yang digelar Kementerian Kebudayaan di Universitas Lambung Mangkurat, 28 Juli lalu.

Menurutnya, absennya kedua tokoh ini adalah cermin bagaimana sejarah lokal sering tersisihkan.

Bahkan melahirkan sebuah anggapan pada sebagian orang awam, bahwa peristiwa yang berdampak bagi sejarah bangsa hanyalah yang berasal dari pulau Jawa dan Sumatera. seperti yang selama ini banyak diceritakan dalam buku-buku sekolah.

“Perjuangan kemerdekaan adalah hasil kolektif bangsa, bukan hanya Jawa dan Sumatera. Kalimantan juga punya andil besar,” tegas Mursalin.

Alhasil, menurutnya banyak peristiwa dari daerah yang berdampak nasional, malah luput dari penulisan sejarah resmi.

“Padahal sejarah lokal itu batu bata yang menyusun gedung besar bernama negara. Kalau batu batanya dihilangkan, bangunannya timpang.”

Mursalin mencontohkan, Anang Abdul Hamidhan hadir langsung dalam perumusan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jakarta.

Ketika kembali ke Banjarmasin pada 26 Agustus 1945, ia menjadi pembawa kabar kemerdekaan hingga nyawanya diancam Minseibu Cokan, pemimpin tertinggi pemerintahan Jepang di Kalimantan.

“AA Hamidhan diancam akan dipancung jika menyebarkan berita tersebut,” ungkap Mursalin.

Akibatnya, rakyat Banjar baru mengetahui kabar kemerdekaan lebih dari sepekan setelah 17 Agustus.

Meski sempat bergembira, suasana berubah ketika Perjanjian Linggarjati menempatkan Kalimantan sebagai negara federal, artinya tidak masuk wilayah Indonesia.

Di sinilah peran dan perjuangan PM Noor menjadi menonjol.

Sebagai pejabat tinggi pada masa awal republik, ia menjadi penghubung diplomasi dan simbol keterlibatan Kalimantan dalam perjuangan kemerdekaan.

“Bahkan, beliau (PM Noor) termasuk salah satu Founding Father atau Bapak Bangsa yang tidak banyak diketahui orang,” ujar Mursalin.

Perjuangan PM Noor, tidak hanya terlibat dalam upaya pengusiran tentara Sekutu di medan perang, tetapi juga melalui diplomasi.

Bahan ia rela menjadikan rumahnya menjadi markas tentara pelajar sebelum dikirim ke penjuru tanah air. Termasuk ke Kalimantan untuk berjuang bersama Jenderal Hassan Basry.

“Beliau (PM Noor) menjadi simbol keterlibatan rakyat Kalimantan Selatan dalam perjuangan kemerdekaan,” ujar Mursalin.

Mursalin juga menyinggung soal nasionalisme yang tumbuh sejak awal abad ke-20 di Tanah Banjar, yang tidak lepas dari aktivitas politik etis dan perkembangan pendidikan.

Sekolah-sekolah seperti Sekolah Rakyat Keputrian di Benua Kupang Barabai, Musyawaratutthalibin, Taman Siswa di Marabahan, hingga Sekolah Parindra di Kandangan, melahirkan generasi terdidik yang memahami paham kebangsaan dan menjadi bibit pergerakan.

Karena itulah, Mursalin menyebut, bahwa kisah seperti ini harus disuarakan, terutama kepada generasi muda.

“Kalau kita biarkan, lambat laun sejarah yang ditulis akan membuat peran tokoh Banua hilang dari ingatan bangsa,” imbuhnya.

Bagi Mursalin, kisah PM Noor dan Anang Abdul Hamidhan bukan sekadar catatan daerah. “Ini bukti bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan seluruh pelosok negeri,” tandas Mursalin.

Editor : Muhammad Syarafuddin
#17 agustus #Kementerian Kebudayaan #UIN Antasari #Proklamasi #Sejarah