Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Innalillahi, Suami Jurnalis Senior Najwa Shihab Berpulang, Begini Sosok Ibrahim Sjarief: Sederhana dan Rendah Hati

M. Syarifuddin • Selasa, 20 Mei 2025 | 19:27 WIB

Ibrahim Sjarief Assegaf (kiri) dikabarkan meninggal dunia karena stroke
Ibrahim Sjarief Assegaf (kiri) dikabarkan meninggal dunia karena stroke

Jakarta, 20 Mei 2025 — Kabar duka datang dari keluarga jurnalis senior Najwa Shihab. Sang suami tercinta, Ibrahim Sjarief Assegaf, berpulang ke rahmatullah pada hari Selasa, 20 Mei 2025 pukul 14.29 WIB di RS PON, Jakarta Timur. Almarhum meninggal dunia karena sakit stroke yang dideritanya.

Meninggalnya Ibrahim Sjarief menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga bagi banyak tokoh nasional, dunia hukum, serta para sahabat di dunia jurnalistik dan aktivisme. Di balik sosoknya yang tenang dan jarang tersorot kamera, Ibrahim adalah figur yang disegani dan dihormati karena integritas, keilmuan, serta kerendahan hatinya.


Sosok yang Jarang Tampil Tapi Punya Jejak Besar

Ibrahim Sjarief Assegaf bukanlah nama yang sering muncul di headline berita, namun jejak profesionalismenya di bidang hukum dan kontribusinya terhadap pembangunan sistem hukum Indonesia sangat signifikan. Ia dikenal sebagai seorang advokat andal, pengajar, pemimpin institusi hukum digital, sekaligus Komisaris Utama dari media Narasi.

Berdasarkan Linkedin, Ibrahim memulai karier hukumnya di firma hukum bergengsi Hadiputranto, Hadinoto & Partners pada tahun 1997, hanya beberapa saat setelah meraih gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Perjalanan kariernya terus berkembang. Setelah itu, ia menjabat sebagai Executive Director di Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) hingga tahun 2003.

Tak berhenti di situ, Ibrahim juga sempat menjadi pengajar hukum bisnis di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, di mana ia ikut membentuk generasi muda hukum yang lebih sadar etika dan keberpihakan pada publik.


Latar Belakang Akademik yang Kuat

Selain menempuh pendidikan hukum di UI, Ibrahim Sjarief melanjutkan pendidikannya ke jenjang internasional. Menurut akun Linkedin-nya, ia meraih gelar Master of Laws dari University of Melbourne, Australia, pada tahun 2009. Ini adalah salah satu universitas terbaik di dunia, dan di sana ia memperdalam keahliannya di bidang banking and finance, restructuring, dan infrastruktur.

Kiprah akademisnya memperkuat kredibilitas profesionalnya, yang kemudian membawanya menjabat sebagai partner di Assegaf Hamzah & Partners—salah satu firma hukum ternama di Indonesia. Ia telah menangani berbagai kasus dan proyek besar, termasuk sektor energi, infrastruktur, merger dan akuisisi (M&A), serta masalah hukum penerbangan.


Pengakuan Dunia Hukum Internasional

Tak heran jika sejumlah lembaga pemeringkat hukum internasional menempatkan namanya dalam daftar bergengsi:

Namun meskipun memiliki deretan prestasi mentereng, mereka yang mengenalnya lebih dekat menggambarkan Ibrahim sebagai sosok yang sederhana, pendiam, dan bersahaja.


Sang Pendamping Najwa Shihab

Dalam sorotan media, Najwa Shihab kerap tampil sebagai jurnalis yang vokal dan tangguh. Namun di balik layar, sosok Ibrahim adalah pilar kekuatan dan ketenangan. Mereka dikenal sebagai pasangan yang saling melengkapi: satu lantang di publik, satu lagi mendalam di balik layar.

Mereka tidak banyak memamerkan kehidupan pribadi, namun kebersamaan mereka terlihat jelas dalam beberapa momen penting Narasi, media digital yang didirikan Najwa Shihab. Ibrahim tak hanya sebagai pendukung, tapi juga turut memberi arah sebagai Komisaris Utama.


Detik-detik Wafat dan Suasana Rumah Duka

Kabar wafatnya Ibrahim pertama kali dikonfirmasi oleh tokoh Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla atau akrab disapa Gus Ulil.

“Betul. Kena stroke,” kata Gus Ulil, Selasa (20/5/2025).

Tak lama setelah berita itu tersiar, suasana haru menyelimuti rumah duka di kawasan Jalan Jeruk Purut Buntu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sejumlah tokoh dan sahabat berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid hadir sekitar pukul 18.00 WIB. Sebelumnya, Anies Baswedan, Ahok, Zulkifli Hasan, dan bahkan kreator konten Andovi Da Lopez juga hadir di lokasi. Kehadiran mereka menandakan betapa luasnya jejaring sosial dan profesional almarhum, melintasi politik, hukum, media, hingga generasi muda.

Karangan bunga terus berdatangan. Dari pihak swasta, institusi hukum, tokoh masyarakat, hingga media. Di antara yang mencolok adalah bunga anggrek putih bertuliskan ungkapan duka cita.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada Rabu, 21 Mei 2025, pukul 10.00 WIB.


Ucapan Duka Mengalir Deras

Berbagai tokoh publik mengungkapkan rasa kehilangan atas wafatnya Ibrahim. Akun resmi Narasi menyampaikan:

"Kami turut berbelasungkawa atas wafatnya Komisaris Utama Narasi dan Suami Najwa Shihab, Ibrahim Sjarief Assegaf."

Media sosial pun dipenuhi ucapan duka dari rekan, kolega, serta publik. Banyak yang menyoroti betapa besar kontribusi Ibrahim di balik dunia media dan hukum yang selama ini tak banyak diekspos.


Sosok Sederhana, Pendiam, dan Rendah Hati

Kesan paling kuat dari banyak pelayat adalah kepribadian Ibrahim yang sederhana dan penuh integritas. Tidak sedikit yang menyebut bahwa ia tipe pemimpin yang lebih memilih mendukung dari belakang, mendorong dari balik layar, dan tidak pernah haus pujian.

Rekan-rekan di dunia hukum menggambarkannya sebagai seseorang yang jujur, bekerja dengan tenang, namun hasilnya luar biasa. Ia tidak senang tampil, namun bila berbicara, ucapannya penuh perhitungan dan berdampak.

“Mas Ibrahim itu tipe pria yang kalau ngomong nggak banyak, tapi setiap kata penting. Dia pendengar yang baik, dan pemikir yang dalam,” ujar salah satu rekan sesama pengacara.


Warisan Pemikiran dan Etika Profesional

Meski kini telah tiada, warisan Ibrahim tetap hidup: dalam cara ia memimpin firma hukum, membina media independen, serta mendidik anak-anak hukum di Indonesia.

Sebagai pendiri dan Direktur PT Justika Siar Publik (hukumonline.com) sejak 2009, ia punya visi besar tentang transparansi dan akses hukum yang lebih mudah. Dalam dunia hukum yang kerap terlihat rumit dan eksklusif, Ibrahim justru berjuang agar publik dapat memahami hak dan kewajiban hukumnya dengan sederhana.


Penutup: Doa dan Kenangan

Wafatnya Ibrahim Sjarief Assegaf menyisakan duka sekaligus pengingat bahwa kepergian tak mengenal panggung. Sosok besar tak selalu datang dari sorotan lampu, tapi dari kerja diam-diam yang membangun masa depan.

Doa terbaik mengiringi kepergianmu, Mas Ibrahim. Terima kasih telah menjadi contoh bahwa ketulusan, etika, dan keilmuan bisa hidup berdampingan.

Semoga keluarga yang ditinggalkan, terutama Najwa Shihab dan anak-anaknya, diberi ketabahan. Dan semoga sosokmu menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin membangun negeri bukan hanya dengan suara, tapi juga dengan karya yang diam-diam mengubah banyak hal.

Editor : Arief
#Tokoh #Pers #meninggal #Sosok