Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hujan Es Guyur Yogyakarta: Rusak Atap Rumah dan Kendaraan Warga, Apa Penyebabnya?

M. Syarifuddin • Selasa, 11 Maret 2025 | 18:50 WIB
Fenomena hujan es
Fenomena hujan es

Yogyakarta – Fenomena hujan es kembali terjadi di Yogyakarta pada Selasa (11/3/2025) sore, menggemparkan warga di beberapa wilayah seperti Godean Sleman, Mranggen Kotagede, dan kawasan Universitas Gajah Mada. Butiran es yang turun bervariasi dari sebesar kelereng hingga seukuran ruas jari orang dewasa, disertai hujan lebat dan angin kencang, menimbulkan kekhawatiran sekaligus rasa penasaran masyarakat tentang penyebab dan dampaknya.

Apa yang Menyebabkan Hujan Es?

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan es merupakan fenomena cuaca ekstrem berskala lokal yang sering terjadi pada masa pancaroba atau peralihan musim.

Fenomena ini dipicu oleh aktivitas konveksi yang signifikan di atmosfer, terutama terkait dengan pembentukan awan Cumulonimbus (Cb). Awan ini dikenal sebagai awan vertikal yang menjulang tinggi dan mampu menghasilkan butiran es berukuran besar.

Proses terjadinya hujan es dimulai ketika udara hangat dan lembap naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi (updraft). Di sana, udara mengalami pendinginan ekstrem, menyebabkan uap air membeku menjadi partikel es.

Ketika partikel es tersebut sudah terlalu berat untuk ditahan oleh awan, mereka jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan es, sering kali disertai hujan lebat dan angin kencang.

Dampak Hujan Es di Yogyakarta

Hujan es yang terjadi pada 11 Maret 2025 ini tidak hanya mengejutkan warga, tetapi juga menimbulkan beberapa dampak langsung. Di wilayah Godean Sleman dan Mranggen Kotagede, butiran es yang turun merusak atap rumah dan kendaraan.

Selain itu, hujan lebat yang menyertainya menyebabkan pohon tumbang di sekitar Jalan Mataram, yang merupakan akses menuju Jalan Malioboro, seperti yang dikutip dari Republika.

BMKG Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di wilayah yang mengalami curah hujan tinggi. Mereka juga menekankan pentingnya mitigasi bencana, seperti memangkas dahan pohon yang rapuh dan membersihkan saluran air untuk mencegah banjir.

Antisipasi dan Langkah Mitigasi

Menjelang puncak musim hujan yang diprediksi terjadi hingga Februari 2025, Pemerintah Kota Yogyakarta telah memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga 28 Februari 2025. Kompas melaporkan, langkah ini diambil sebagai respons terhadap prediksi BMKG yang menyebutkan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di wilayah DIY dalam beberapa bulan ke depan.

Selain itu, BMKG menghimbau masyarakat untuk memantau informasi cuaca terkini melalui berbagai platform resmi, seperti Twitter, Instagram, dan website BMKG Stasiun Klimatologi DIY. Masyarakat juga diharapkan melaporkan kejadian bencana ke Posko Siaga Darurat untuk memastikan penanganan cepat dan tepat.

Fenomena hujan es di Yogyakarta bukanlah kejadian langka, tetapi tetap memerlukan kewaspadaan tinggi dari semua pihak. Dengan memahami penyebab dan dampaknya, serta melakukan langkah-langkah mitigasi yang tepat, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko kerugian dan kerusakan yang mungkin timbul.

Editor : Arief
#hujan es #yogyakarta #cuaca