Saatnya Memprioritaskan Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Nurhidayat • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:46 WIB
Kristiana Purwaningtyas, M.Psi. (Psikolog Klinis RS Pertamina Tanjung)
Kristiana Purwaningtyas, M.Psi. (Psikolog Klinis RS Pertamina Tanjung)

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara tuntutan produktivitas dan hak pekerja atas kesehatan mental. Keselamatan kerja tidak hanya berkaitan dengan perlindungan terhadap risiko fisik, tetapi juga mencakup upaya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis pekerja.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023 yang dikutip dalam berbagai publikasi, sebanyak 83% pekerja di Indonesia dilaporkan mengalami gejala burnout. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi kesehatan, kualitas hidup, serta kinerja pekerja. Jika tidak ditangani dengan tepat, burnout juga dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi.

Memahami Apa Itu Burnout ?

Burnout bukan sekadar kelelahan biasa setelah menjalani hari kerja yang panjang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout merupakan fenomena terkait pekerjaan yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Kondisi ini ditandai oleh tiga dimensi utama:

1. Kelelahan Berlebihan (Exhaustion)
Pekerja mengalami kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan. Energi terasa terkuras, tubuh tetap lelah meskipun telah beristirahat, dan konsentrasi menjadi sulit dipertahankan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan keluhan kesehatan.

2. Jarak Mental dan Sikap Sinis terhadap Pekerjaan (Cynicism)
Pekerja mulai merasa tidak terhubung secara emosional dengan pekerjaannya. Mereka dapat menjadi lebih sinis, kehilangan kepedulian, atau tidak lagi menikmati pekerjaan yang sebelumnya terasa bermakna. Kondisi ini terkadang digambarkan sebagai bekerja tanpa keterlibatan emosional.

3. Penurunan Efektivitas Profesional (Reduced Professional Efficacy)
Pekerja merasa kemampuan dan pencapaiannya menurun. Tugas yang sebelumnya mudah diselesaikan terasa semakin berat, motivasi berkurang, dan kepercayaan diri dalam bekerja melemah. Kondisi ini dapat terlihat dari meningkatnya kebiasaan menunda pekerjaan, kesulitan menyelesaikan tugas, atau munculnya kesalahan yang memengaruhi kualitas kerja.

Akar Masalah: Sistem Kerja, Bukan Kelemahan Individu

Burnout tidak seharusnya dipandang sebagai tanda kelemahan atau ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi tekanan. Kondisi ini perlu dipahami sebagai persoalan yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan dan sistem kerja di dalam organisasi.

Tidak jarang pekerja yang mengalami tekanan justru mendapat penilaian negatif, seperti dianggap terlalu lemah atau terlalu sensitif. Padahal, di balik kondisi tersebut, mungkin terdapat persoalan yang lebih mendasar, seperti beban kerja berlebihan, tuntutan yang tidak realistis, kurangnya dukungan dari atasan, komunikasi yang tidak sehat, serta kebijakan yang kurang memperhatikan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance).

Di era modern, risiko psikososial menjadi salah satu aspek penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan burnout tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan individu untuk mengelola stres. Organisasi juga perlu melakukan evaluasi terhadap sistem kerja, pembagian beban kerja, pola komunikasi, dukungan sosial, serta kebijakan yang mendukung kesejahteraan pekerja.

Membangun lingkungan kerja yang sehat membutuhkan komitmen bersama antara manajemen dan seluruh pekerja. Budaya kerja yang saling menghargai, terbuka, peduli, dan berempati dapat membantu menciptakan tempat kerja yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga sehat secara mental.

Ambil Langkah Pencegahan Sekarang

Burnout dapat dicegah dan ditangani melalui upaya yang tepat, baik dari sisi individu maupun organisasi. Mengenali tanda-tanda awal, menjaga keseimbangan aktivitas dan istirahat, membangun komunikasi yang sehat, serta mencari dukungan ketika menghadapi tekanan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.

Apabila Anda mengalami kelelahan berkepanjangan, kehilangan motivasi, kesulitan berkonsentrasi, atau merasa semakin terbebani oleh pekerjaan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog klinis dapat membantu Anda memahami kondisi yang dialami serta menemukan strategi pengelolaan stres dan pemulihan yang sesuai.

RS Pertamina Tanjung menyediakan layanan konsultasi psikolog klinis yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan dukungan profesional terkait kesehatan mental.

Jadwal praktik:

• Hari: Senin, Rabu, dan Jumat
• Waktu: Pukul 10.00–12.00 WITA
Mari bersama-sama menjadikan kesehatan mental sebagai bagian penting dari budaya keselamatan kerja. Karena pekerja yang sehat secara mental bukan hanya lebih mampu menjalankan perannya, tetapi juga berkontribusi dalam membangun lingkungan kerja yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.

Kesehatan mental adalah bagian dari keselamatan kerja. Mari peduli, mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Editor : Nurhidayat
tanjung kesehatan RS Pertamina