Dipicu Karhutla, Kasus ISPA di Banjarbaru Terus Melonjak

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 13:13 WIB
KABUT: Kondisi kabut asap di Banjarbaru beberapa waktu lalu. Pekatnya asap membuat kasus ISPA di Banjarbaru meningkat. 
(Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN)
KABUT: Kondisi kabut asap di Banjarbaru beberapa waktu lalu. Pekatnya asap membuat kasus ISPA di Banjarbaru meningkat.  (Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru tidak hanya berdampak pada munculnya titik api dan kabut asap. Gangguan kesehatan masyarakat, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), mengalami peningkatan signifikan di sejumlah wilayah.

Di Kecamatan Liang Anggang, jumlah kasus ISPA dilaporkan melonjak hingga lebih dari 50 persen. Kombinasi paparan asap karhutla dan fenomena cuaca pancaroba memicu tingginya keluhan batuk, pilek, hingga sesak napas pada pasien yang datang ke fasilitas kesehatan setempat.

Akumulasi data sistem pencatatan terpadu periode Januari hingga September mencatat, jumlah kasus ISPA pada kelompok usia di atas lima tahun di Kecamatan Liang Anggang telah menembus angka 198.106 kasus.

Tren kenaikan kasus tersebut terus berlanjut hingga awal Oktober. “Pasien bertambah, apalagi sekarang ada influenza dan penyakit lainnya. Penularannya tergolong cepat karena kesadaran warga dalam memakai masker masih rendah. Banyak warga yang sedang batuk atau pilek masih enggan mengenakan masker," terang Kepala Puskesmas Liang Anggang dr Nani Andriani.

Berdasarkan data rekapitulasi harian per 6 Oktober, penderita ISPA tersebar di berbagai kelompok umur. Tercatat lima pasien bayi usia 0–11 bulan, 21 pasien balita usia 1–5 tahun, dan 22 pasien anak usia 5–9 tahun.

Selanjutnya, kelompok usia 10–18 tahun sebanyak 13 pasien, serta kelompok usia produktif 19–59 tahun menjadi yang terbanyak dengan 39 pasien. Petugas medis juga mendeteksi satu kasus pneumonia.

Di sisi lain, kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sempat diterapkan bagi anak sekolah dinilai efektif menahan laju penularan. Langkah tersebut berhasil mengurangi paparan udara luar dan interaksi langsung pada anak-anak.

"Kebijakan PJJ kemarin cukup membantu menekan angka penularan pada anak-anak. Harapannya dengan berbagai penyesuaian, tren kasus ini bisa terus menurun," tutur dr Nani.

Ia mengatakan, imbauan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan menghadapi kendala di lapangan. Faktor kebutuhan ekonomi membuat sebagian besar warga tetap harus beraktivitas di luar rumah setiap hari untuk bekerja. “Tingkatkan kewaspadaan terhadap gejala batuk dan pilek, terutama saat kualitas udara memburuk,” pesannya. (she/mof)

Editor : Arief M
Berita Banjarbaru karhutla Kabut Asap ispa