RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Sebanyak 15 ribu masker disiapkan PT Antang Gunung Meratus (AGM) bersama PT Dwima Intiga untuk warga dan relawan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Masker tersebut disalurkan melalui PMI HSS, BPBD, Tagana, dan Kerukunan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), Sabtu (12/9/2026). Pembagiannya dilakukan bertahap menyesuaikan wilayah yang kondisi kabut asapnya cukup pekat.
Corporate Social Responsibility (CSR) Section Head PT AGM, Widharto Ali mengatakan bantuan masker diberikan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak karhutla dan kabut asap.
“Sebagaimana kita ketahui, wilayah Kalimantan Selatan beberapa bulan belakangan mengalami musim kemarau ekstrem, yang salah satunya mengakibatkan karhutla dan mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari,” ujarnya.
Ketua PMI Kabupaten HSS, Salahuddin mengatakan kabut asap masih dirasakan di sejumlah wilayah, di antaranya tiga wilayah Daha dan Kecamatan Kalumpang.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kebutuhan masker cukup penting, terutama bagi masyarakat yang masih beraktivitas di luar rumah.
“Solusinya mereka menggunakan masker supaya lebih sehat,” ujarnya.
Selain untuk masyarakat, bantuan juga mencakup masker respirator double filter. Masker jenis ini diperuntukkan bagi petugas dan relawan yang terlibat dalam pemadaman karhutla.
Salahuddin mengatakan pendistribusian masker akan diarahkan ke wilayah yang paling terdampak.
“Masker ini melalui koordinator BPBD tentu akan kita bagikan ke daerah-daerah yang paling terdampak,” katanya.
Untuk membantu penanganan dampak karhutla, PT AGM bersama PT Dwima Intiga sebelumnya juga memberikan sarana dan prasarana pemadaman untuk kelompok masyarakat dan BPK.
Dukungan lainnya diberikan melalui pembinaan Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) dan sosialisasi pencegahan karhutla bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Hulu Sungai.
“PT AGM juga bersama PT Dwima Intiga aktif membantu pemadaman karhutla di wilayah-wilayah terdampak kebakaran,” kata Widharto.
Ia menilai penanganan karhutla tidak bisa dilakukan satu pihak saja, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, relawan, dan pihak swasta.
Salahuddin menyebut kerja sama PMI HSS dengan PT AGM sebelumnya juga dilakukan dalam kegiatan donor darah dan kegiatan kemanusiaan lainnya.
Editor : Fauzan Ridhani