Pakar Kesehatan Olahraga Monsphysio Ingatkan Pelari Banjarmasin Kenali Sinyal Cedera

M Idris Jian Sidik • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 14:49 WIB
Warga berlari di kawasan Banjarmasin, aktivitas yang semakin digemari masyarakat menjelang berbagai ajang lari. (M Idris Jian Sidik)
Warga berlari di kawasan Banjarmasin, aktivitas yang semakin digemari masyarakat menjelang berbagai ajang lari. (M Idris Jian Sidik)

RADARBANJARMASIN.COM.JAWAPOS, BANJARMASIN - Semakin banyak warga Banjarmasin gemar berlari, baik pagi di tepian sungai, sore di kompleks perumahan, maupun bersama komunitas menjelang berbagai ajang lari. Namun di balik tren positif ini, Pakar Kesehatan Olahraga dari Monsphysio, Akhmad Ferdian, mengingatkan adanya kecenderungan pelari berlatih semakin kencang tanpa memperhatikan keamanan tubuh.

"Banyak dari kita, meski penghobi dan bukan atlet, kini berlatih layaknya profesional," ujar Ferdian.

Ia menyebut, fenomena ini tidak lepas dari pengaruh aplikasi pencatat lari, papan peringkat, dan unggahan media sosial yang membuat performa terasa lebih penting daripada keselamatan.

"Kita lebih takut kalah pace ketimbang takut cedera," katanya.

Menurut Ferdian, tinjauan ilmiah menemukan angka cedera pelari cukup tinggi, dengan lutut sebagai lokasi cedera tersering. Ia menegaskan bahwa yang membuat tubuh sehat bukan kencangnya lari, melainkan latihan yang aman dan terukur.

"Kemenangan sejati bukan siapa paling cepat, tetapi siapa yang pulang tanpa cedera dan performanya tetap naik," jelasnya.

Ferdian menjelaskan, cedera lari jarang datang tiba-tiba, melainkan merupakan sinyal yang sudah diberikan tubuh jauh-jauh hari namun sering diabaikan karena pelari terburu mengejar target.

"Sebagian besar cedera lari, kerap digambarkan sekitar delapan dari sepuluh, bukanlah kecelakaan, melainkan akumulasi beban berlebih, terlalu banyak, terlalu cepat, terlalu dini," ungkapnya.

Ia menyarankan agar kenaikan beban latihan dilakukan secara bertahap, idealnya di bawah sepuluh persen per minggu, untuk menekan risiko cedera akibat lonjakan intensitas yang drastis.

Terkait tanda peringatan dini, Ferdian membagikan tiga sinyal yang wajib diperhatikan pelari. Pertama, nyeri yang mengubah cara lari, seperti pincang atau memindah tumpuan demi menghindari sakit. Kedua, nyeri yang tidak reda setelah pemanasan bahkan makin menjadi. Ketiga, nyeri yang masih terasa hingga keesokan paginya.

"Sedikit sisa nyeri wajar, tetapi bila menetap ke hari berikutnya, artinya pemulihan belum selesai," jelasnya.

Selain pola latihan, Ferdian menyoroti pentingnya istirahat, tidur, dan hidrasi bagi pelari. Ia menjelaskan bahwa otot tidak menguat saat berlari, melainkan saat tubuh beristirahat, sehingga hari istirahat bukan tanda kalah, melainkan bagian dari program latihan yang baik.

"Studi pada atlet muda menemukan mereka yang rutin tidur kurang dari delapan jam memiliki risiko cedera sekitar 1,7 kali lebih tinggi," katanya.

Ia turut mengingatkan pentingnya hidrasi, khususnya di iklim tropis lembap seperti Banjarmasin. Menurutnya, saat tubuh kekurangan cairan, darah menjadi lebih kental, otot cepat lelah, dan koordinasi menurun, kondisi yang justru meningkatkan risiko cedera.

"Jangan menunggu haus baru minum. Untuk lari di bawah satu jam, air putih umumnya cukup, lebih panjang dari itu, tubuh butuh tambahan elektrolit," ujarnya.

Ferdian menambahkan, warna urine bisa menjadi penanda sederhana status hidrasi tubuh, di mana semakin terang warnanya, semakin baik kondisi cairan tubuh. Ia juga mengingatkan pelari mewaspadai tanda bahaya akibat panas, seperti pusing berat, mual, linglung, atau berhenti berkeringat padahal tubuh masih kepanasan.

"Kencang itu bonus, konsisten itu prestasi. Dan konsisten hanya bisa dicapai bila tubuh sehat, terhidrasi, dan kita cukup rendah hati untuk mendengarkan sinyalnya," pungkasnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa peran fisioterapi bukan hanya memulihkan tubuh yang telanjur cedera, tetapi juga membantu merancang latihan yang aman dan terukur agar cedera tidak perlu terjadi sejak awal.

Editor : Arif Subekti
pakar kesehatan berlari kencang kalangan warga banjarmasin tren