RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Rutinitas pagi yang biasanya ramai dengan pelari, pejalan cepat, dan pemain bola kini terganggu. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Banjarmasin dan sekitarnya sebagian besar kiriman dari Kabupaten Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut. Aromanya bahkan tercium hingga menjelang siang. Kalimantan Selatan kini masuk dalam daftar enam provinsi prioritas penanganan karhutla nasional.
Di Banjarbaru, kadar partikel halus PM2.5 sempat menembus angka 389,4 mikrogram per meter kubik masuk kategori berbahaya. Banjarmasin memang belum mencapai level itu, namun ada persoalan lain yang patut menjadi perhatian: alat pengukur kualitas udara resmi di kota ini sedang tidak berfungsi, sehingga angka yang beredar tidak bisa dijadikan patokan tunggal.
Pertanyaan yang kemudian muncul di benak banyak warga adalah: masih amankah berolahraga di luar ruangan?
Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian, menjawab pertanyaan itu dengan penjelasan yang terukur. Ia mengingatkan bahwa saat berolahraga, tubuh bernapas jauh lebih cepat, lebih dalam, dan cenderung melalui mulut melewati penyaring alami yang dimiliki hidung.
Akibatnya, jumlah partikel berbahaya yang masuk ke saluran pernapasan melonjak drastis dibandingkan saat tubuh dalam kondisi diam.
"PM2.5 adalah partikel yang sangat halus ukurannya sekitar sepersepuluh serbuk sari. Karena begitu kecil, ia mampu menembus hingga kantung udara terdalam di paru, bahkan masuk ke aliran darah dan memicu peradangan. Berolahraga di udara berasap artinya kita menghirup lebih banyak partikel berbahaya itu, lebih dalam dari biasanya," jelas Akhmad Ferdian, Minggu (23/8/2026).
Ia merujuk pada sebuah penelitian yang menguji kondisi anak muda sehat yang bersepeda dengan intensitas sedang selama dua jam di udara dengan kondisi menyerupai asap karhutla. Hasilnya cukup mengkhawatirkan fungsi pembuluh darah dan saraf mereka menurun sesaat setelah sesi berakhir. Dan itu terjadi pada orang-orang muda yang sehat.
Lantas, kapan boleh tetap berolahraga di luar dan kapan harus berhenti? Akhmad Ferdian memberikan panduan praktis berdasarkan kondisi kualitas udara. Ketika udara masih baik, olahraga luar ruangan tetap aman dilakukan. Ketika udara mulai tidak sehat bagi kelompok sensitif, intensitas perlu diturunkan misalnya mengganti sesi lari dengan jalan cepat.
Jika udara sudah memasuki kategori tidak sehat, latihan berat sebaiknya dipindahkan ke dalam ruangan. Dan jika kondisi sudah sangat tidak sehat hingga berbahaya, aktivitas fisik cukup dilakukan di dalam saja.
"Karena alat ukur resmi di Banjarmasin sedang bermasalah, gunakan indikator yang bisa diamati sendiri. Bila jarak pandang menurun dan bau asap sudah tercium, itu pertanda kadar partikel sedang tinggi dan olahraga di luar ruangan tidak dianjurkan," ujarnya.
Terkait penggunaan masker, Akhmad Ferdian mengingatkan bahwa tidak semua masker memberikan perlindungan yang sama. Masker N95 mampu menyaring sekitar 95 persen partikel halus, sementara masker kain atau masker bedah biasa nyaris tidak memberikan perlindungan berarti terhadap PM2.5. Namun ia mengingatkan, masker bukan alasan untuk tetap berlari kencang di luar fungsinya untuk aktivitas harian, bukan pengganti keputusan memindahkan latihan berat ke dalam ruangan.
Akhmad Ferdian juga mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap ekstrem ke dua arah yang sama-sama keliru baik panik berlebihan karena sekali terpapar, maupun sebaliknya meliburkan diri total dari gerak badan selama berhari-hari.
"Jalan tengahnya sederhana: teruslah bergerak, tetapi pindahkan ke dalam ruangan selama fase asap. Sesi ringan di ruangan tertutup pun tetap memberikan manfaat yang nyata," tegasnya.
Ia secara khusus mengingatkan kelompok yang lebih rentan ibu hamil, anak-anak, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, dan jantung untuk lebih berhati-hati dan membatasi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap berlangsung.
Dari sisi fisioterapi, Akhmad Ferdian menyebut ada latihan napas sederhana yang bisa membantu bagi mereka yang mengalami sesak atau iritasi ringan akibat paparan asap, seperti pursed-lip breathing atau pernapasan bibir mengerucut, dan diaphragmatic breathing atau pernapasan perut keduanya lazim diajarkan dalam program rehabilitasi paru.
"Menjaga tubuh tetap aktif itu baik, tetapi menjaganya tetap aman jauh lebih bijak. Musim asap akan berlalu, dan kebugaran yang kita bangun sepanjang tahun tidak perlu ditebus dengan mengorbankan kesehatan paru. Bila keluhan pernapasan muncul dan menetap, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau fisioterapi," pungkas Akhmad Ferdian. (bir)
Editor : Arief M