RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Musim kemarau mulai terasa di Kota Banjarmasin. Selain suhu udara yang semakin panas, kondisi lingkungan yang lebih kering dan berdebu meningkatkan risiko penyebaran Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin pun mengingatkan masyarakat agar lebih waspada. Pasalnya, ISPA hampir setiap tahun selalu menjadi salah satu penyakit dengan jumlah kasus terbanyak di kota tersebut.
"ISPA dari tahun ke tahun memang selalu masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak yang terlaporkan di bidang kesehatan," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Banjarmasin, dr Dwi Atmi Susilawati, Senin (20/7/2026).
Menurut Atmi, udara yang lebih kering disertai meningkatnya paparan debu saat musim kemarau menjadi salah satu faktor utama yang memicu gangguan saluran pernapasan.
Data Dinkes mencatat, sepanjang 2025 terdapat 28.626 kasus ISPA di Banjarmasin. Sementara hingga akhir Mei 2026, jumlah kasus telah mencapai 9.657.
Kelompok yang paling rentan terserang ISPA adalah balita dan lanjut usia (lansia). Namun, masyarakat dari semua kelompok usia tetap diminta menjaga kondisi tubuh agar daya tahan tetap optimal.
Gejala ISPA yang perlu diwaspadai meliputi batuk, pilek atau hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, sakit kepala, tubuh lemas, nafsu makan menurun, hingga mual dan muntah.
Untuk mencegah ISPA, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, memperbanyak minum air putih, serta mengurangi paparan debu dan asap.
Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan untuk mengurangi risiko menghirup debu selama musim kemarau.
"Kalau keluar rumah sebaiknya memakai masker untuk melindungi dari debu atau asap. Jangan lupa juga minum air putih yang cukup agar tidak mengalami dehidrasi," pesan Atmi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam, atau sesak napas. Penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Editor : Eddy Hardiyanto