RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Dunia MMA diguncang kabar mengejutkan. Conor McGregor, petarung Irlandia yang dinantikan kembalinya selama lebih dari lima tahun, harus angkat tangan hanya dalam 69 detik pertama laga utama UFC 329 melawan Max Holloway di T-Mobile Arena, Las Vegas, 11 Juli lalu. Bukan pukulan lawan yang merobohkannya, melainkan lututnya sendiri.
Insiden itu memantik perhatian Akhmad Ferdian, fisioterapis olahraga yang mencermati kronologi cedera McGregor dari kacamata medis. Menurutnya, apa yang terjadi pada petarung berusia 37 tahun itu bukan sesuatu yang mengejutkan jika dilihat dari sisi klinis.
"McGregor melakukan tendangan melompat di awal laga, lalu mendarat canggung pada kaki kanannya. Lutut hampir lurus saat mendarat, kemudian ada gerakan memutar secara tiba-tiba. Pola seperti inilah yang paling sering memicu robekan ligamen anterior cruciatum atau ACL," jelas Akhmad Ferdian, Minggu (19/7/2026).
Diagnosis resmi masih menunggu hasil MRI. Namun tim medis UFC maupun Ketua UFC Dana White menduga kuat ini adalah robekan ACL. Pendapat lain dari pakar medis menyebut cedera meniskus juga perlu dipertimbangkan.
Akhmad Ferdian menjelaskan, banyak orang keliru mengira cedera ligamen lutut selalu disebabkan benturan dari lawan. Faktanya, sekitar tujuh dari sepuluh kasus robekan ACL justru terjadi tanpa kontak fisik sama sekali.
"Polanya khas: melompat, mendarat satu kaki, lalu berhenti mendadak atau berputar dengan lutut yang hampir lurus. Beban yang muncul dari gerakan itu bisa melampaui kemampuan ligamen untuk menahannya," terangnya.
Ia juga menyoroti sejumlah faktor yang memperbesar risiko pada diri McGregor secara khusus. Usia 37 tahun yang menurunkan elastisitas jaringan dan kontrol otot, absen bertanding selama lima tahun, serta riwayat cedera berat termasuk patah tulang kering pada 2021, menjadi kombinasi yang rawan.
"Melakukan gerakan eksplosif seperti tendangan melompat di menit pertama, saat tubuh belum benar-benar panas, adalah situasi yang berisiko tinggi. Apalagi dengan faktor usia dan lamanya vakum bertanding," tambah Akhmad Ferdian.
Terkait pemulihan, Akhmad Ferdian menyebut McGregor sudah menyinggung satu kata kunci yang tepat, yaitu prehab atau persiapan sebelum operasi. Menurut fisioterapis tersebut, langkah ini bukan sekadar formalitas.
"Prehab bertujuan mengembalikan gerak lutut hingga lurus penuh, menekan pembengkakan, dan mengaktifkan otot paha sebelum operasi dilakukan. Ini terbukti secara ilmiah memperbaiki hasil pasca operasi," ujarnya.
Setelah operasi, pemulihan berjalan bertahap. Dimulai dari melindungi cangkok ligamen baru, memulihkan pola berjalan, membangun kekuatan otot, hingga melatih kemampuan melompat, berlari, dan berubah arah. Untuk atlet veteran, Akhmad Ferdian menyebut waktu pemulihan realistis berkisar sembilan hingga dua belas bulan.
Yang terpenting, ia menekankan bahwa keputusan kembali bertanding harus didasarkan pada kriteria, bukan kalender.
"Bukan soal sudah berapa bulan sejak operasi, tetapi apakah kekuatan kedua tungkai sudah setara, apakah kontrol gerak sudah pulih, dan apakah kesiapan mental benar-benar ada. Terburu-buru justru membuka risiko robekan kedua," tegasnya.
Akhmad Ferdian juga mengingatkan bahwa cedera ACL tanpa kontak bukan hanya ancaman bagi atlet profesional. Pola cedera serupa kerap ditemukan pada pemain futsal, penggemar bulu tangkis, atau siapa pun yang aktif berolahraga dengan gerakan lompat, henti mendadak, dan putar badan.
"Kesembuhan sejati bukan sekadar sudah tidak nyeri. Sendi harus benar-benar kuat, stabil, dan bisa diandalkan pada gerakan penuh. Dan itu tidak datang dengan sendirinya hanya dengan menunggu. Di sinilah peran fisioterapi yang terarah menjadi sangat penting dalam setiap tahap pemulihan," pungkas Akhmad Ferdian.
Editor : Arif Subekti