Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cegah Fatalitas Melahirkan: Redam Kepanikan Ibu Hamil Lewat Hypnobirthing

Sheilla Farazela • Minggu, 28 Juni 2026 | 15:15 WIB
pelaksanaan hipnobrithing oleh bidan Erly Marlina (Sheilla Farazela/ Radar Banjarmasin)
pelaksanaan hipnobrithing oleh bidan Erly Marlina (Sheilla Farazela/ Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM BANJARBARU – Kasus kematian ibu melahirkan di Kota Banjarbaru mengutip data Banjarbaru Dalam Angka 2026  saat ini diketahui telah menyentuh tiga kasus.  
 
Mencegah fatalitas tersebut, salah satu yang kini diintensifkan oleh praktisi kebidanan adalah intervensi psikologis melalui metode hypnobirthing  guna meminimalkan risiko komplikasi persalinan akibat kepanikan dan kecemasan tinggi.

Bidan Erly Marlina mengungkapkan, mayoritas ibu hamil kerap didera rasa was-was yang luar biasa sejak awal masa kehamilan hingga menjelang detik-detik persalinan. 

Kondisi psikologis yang tidak stabil ini dinilai berbahaya karena dapat memicu komplikasi fisik saat proses melahirkan.

"Kecemasan itu musuh tersembunyi bagi ibu hamil. Melalui hypnobirthing, kami memberikan relaksasi, visualisasi, dan afirmasi positif agar ibu bisa menanamkan pola pikir bahwa kehamilan dan persalinan adalah proses alami yang nyaman," ujar Erly di sela kegiatan edukasi klinis memperingati HUT Ikatan Bidan Indonesia ke-75 tahun , Minggu (28/6).

Erly menegaskan, pola penanganan hypnobirthing yang ideal tidak bisa dilakukan secara mendadak menjelang hari perkiraan lahir (HPL). 

Pembentukan mental dan pengondisian bawah sadar tersebut justru harus dimulai sejak trimester pertama kehamilan, di saat perubahan hormon mulai memicu fluktuasi emosi pada calon ibu.

Kendati memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi untuk menciptakan persalinan yang minim trauma, metode ini tetap memiliki batas klinis. Erly mengingatkan bahwa kekuatan hypnobirthing bisa goyah seketika jika terjadi situasi darurat medis, seperti pendarahan hebat atau kontraindikasi klinis tak terduga yang memicu rasa nyeri di luar ambang batas toleransi pasien.

"Jika kondisi darurat itu terjadi, rasa kaget pasien bisa membuyarkan fokus relaksasi. Di sinilah pentingnya peran suami yang mendampingi saat pemeriksaan untuk ikut menguatkan afirmasi positif agar mental istri tidak jatuh," jelasnya.

Menariknya, pemanfaatan hypnobirthing di wilayah Praktik Mandiri Bidan (PMB) Arya miliknya kini tidak lagi dimonopoli oleh pasien persalinan normal. 

Metode ini juga terbukti efektif diimplementasikan secara klinis pada pasien yang menghadapi operasi Sectio Caesarea (SC) elektif atau terencana.

"Pasien yang divonis harus SC, misalnya karena kondisi plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir), biasanya mengalami kepanikan yang sangat tinggi. Kami masuk memberikan visualisasi melalui tayangan video proses operasi dan afirmasi terukur. Tujuannya agar mereka bisa memasuki ruang bedah dengan kondisi mental yang stabil dan bahagia," urai Erly.

Komitmen Erly dalam mengawal ketat kesiapan mental ibu hamil ini berkaca pada evaluasi mendalam terhadap kesehatan ibu dan anak, termasuk pentingnya kesiapan fisik pasca-melahirkan seperti pemberian ASI eksklusif. 

Untuk mendukung efektivitas hypnobirthing, para ibu hamil di Banjarbaru kini juga mengombinasikannya dengan latihan senam hamil secara rutin guna menjaga kebugaran otot dan fisik menjelang persalinan.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap para ibu hamil tetap dalam kondisi sehat, baik, dan lancar hingga proses persalinan," pungkasnya.

Editor : Arif Subekti
#trimester pertama #salah satu tindakan #angka kematian anak #banjarbaru