Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Tengkorak Retak ke Gol Piala Dunia, Fisioterapis Ungkap Pelajaran Berharga dari Pemulihan Raúl Jiménez

M Idris Jian Sidik • Minggu, 14 Juni 2026 | 18:49 WIB
CEDERA KEPALA: Penyerang Timnas Meksiko, Raúl Jiménez merayakan gol yang dicetak melalui sundulan kepalanya pada laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Afrika Selatan, Jumat (12/6/2026) waktu setempat.(Foto:FIFA World Cup)
CEDERA KEPALA: Penyerang Timnas Meksiko, Raúl Jiménez merayakan gol yang dicetak melalui sundulan kepalanya pada laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Afrika Selatan, Jumat (12/6/2026) waktu setempat.(Foto:FIFA World Cup)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM – Gol sundulan yang dicetak penyerang Timnas Meksiko, Raúl Jiménez pada laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Afrika Selatan, Jumat (12/6/2026) menjadi momen yang mengundang perhatian banyak pihak. 

Bukan hanya karena membawa timnya unggul, tetapi juga karena gol tersebut lahir dari gerakan yang pernah menjadi penyebab cedera berat yang nyaris mengakhiri kariernya.

Fisioterapis dan Certified Orthopedic Manual Therapist (COMT), Akhmad Ferdian menilai momen tersebut merupakan contoh nyata keberhasilan proses rehabilitasi yang dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Menurut Ferdian, cedera yang dialami Jiménez pada November 2020 termasuk salah satu cedera paling serius dalam dunia sepak bola. Saat itu, penyerang Wolverhampton Wanderers tersebut mengalami benturan keras kepala dalam duel udara yang menyebabkan fraktur tengkorak dan perdarahan di area otak sehingga harus menjalani operasi darurat.

"Kasus Raúl Jiménez menunjukkan bahwa pemulihan cedera berat tidak hanya bergantung pada tindakan medis saat cedera terjadi, tetapi juga pada proses rehabilitasi yang dilakukan secara bertahap dan disiplin," ujarnya, Minggu (14/6/2026).

Ia menjelaskan, setelah menjalani operasi, Jiménez membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan bulan sebelum akhirnya kembali bermain di level kompetitif. Selama masa tersebut, setiap tahapan pemulihan dilakukan secara progresif, mulai dari istirahat total, latihan ringan, hingga kembali berlatih bersama tim.

Menurut Ferdian, prinsip utama dalam rehabilitasi cedera adalah memberikan beban secara bertahap sesuai kemampuan jaringan tubuh yang sedang dalam proses penyembuhan.

"Jaringan yang cedera tidak bisa langsung dipaksa bekerja seperti semula. Tubuh perlu beradaptasi sedikit demi sedikit agar proses penyembuhan berjalan optimal dan risiko cedera berulang bisa diminimalkan," jelasnya.

Selain aspek fisik, Ferdian menekankan bahwa faktor psikologis sering kali menjadi tantangan terbesar bagi atlet yang baru pulih dari cedera serius. Rasa takut mengalami cedera kembali kerap menghambat proses kembali ke performa terbaik.

"Pada banyak kasus, hambatan terbesar justru bukan kondisi fisik, tetapi rasa takut yang muncul setelah cedera. Atlet harus kembali membangun kepercayaan diri terhadap tubuhnya. Ketika rasa percaya diri itu kembali, performa biasanya ikut meningkat," katanya.

Hal tersebut juga dialami Jiménez saat pertama kali kembali melakukan sundulan setelah sembuh. Namun, setelah berhasil melewati momen tersebut tanpa masalah, kepercayaan dirinya perlahan kembali hingga mampu bermain normal seperti sebelumnya.

Ferdian menambahkan, penggunaan pelindung kepala yang hingga kini masih dikenakan Jiménez bukan sekadar aksesori, melainkan bagian dari perlindungan medis terhadap area tengkorak yang pernah mengalami cedera.

"Pelindung kepala memberikan rasa aman sekaligus perlindungan tambahan ketika terjadi kontak fisik, terutama dalam duel udara yang menjadi bagian penting permainan sepak bola," ujarnya.

Menurut Ferdian, kisah Jiménez memberikan pelajaran berharga bahwa cedera berat bukan akhir dari karier seorang atlet. Dengan penanganan medis yang tepat, rehabilitasi yang terstruktur, serta dukungan mental yang kuat, peluang untuk kembali beraktivitas secara optimal tetap terbuka.

"Kisah ini relevan tidak hanya untuk atlet profesional, tetapi juga masyarakat umum yang sedang menjalani pemulihan cedera. Proses rehabilitasi membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendampingan yang tepat agar seseorang dapat kembali bergerak dengan aman dan percaya diri," pungkasnya.

Editor : Fauzan Ridhani
#tengkorak retak #Timnas Mexico #FIFA World Cup #fisioterapis #piala dunia 2026