RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Tingginya mobilitas penduduk di Kota Banjarbaru menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kesehatan. Sebagai salah satu kota transit utama di Kalimantan Selatan, Banjarbaru dinilai memiliki risiko lebih besar terhadap penyebaran penyakit menular, termasuk campak dan rubella.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium terbaru menemukan 8 kasus positif campak dan 2 kasus positif rubella dari total 87 sampel yang diperiksa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru, Dr. Siti Ningsih, mengatakan sebagian besar kasus campak ditemukan pada kelompok usia anak-anak.
Dari delapan kasus positif campak, tiga kasus terjadi pada anak usia 0 hingga 5 tahun yang seluruhnya berjenis kelamin laki-laki. Tiga kasus lainnya ditemukan pada anak usia 5 hingga 11 tahun yang terdiri dari satu laki-laki dan dua perempuan.
Sementara itu, dua kasus campak lainnya menyerang kelompok usia dewasa 18 hingga 59 tahun dan seluruhnya dialami perempuan.
"Kasus campak saat ini memang didominasi kelompok usia anak-anak, terutama balita dan usia sekolah dasar," ujarnya.
Untuk kasus rubella, masing-masing ditemukan pada seorang anak perempuan usia 0 hingga 5 tahun dan seorang perempuan dewasa berusia 18 hingga 59 tahun.
Menurut Dr. Siti, tingginya mobilitas masyarakat sebagai dampak posisi Banjarbaru sebagai kota perlintasan menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran virus antarwilayah.
Selain itu, masih adanya kesenjangan imunitas atau immunity gap juga menjadi pemicu munculnya kasus campak dan rubella. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian anak belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap atau bahkan belum pernah menerima vaksinasi.
Meski demikian, Dinkes Banjarbaru memastikan seluruh kasus yang ditemukan masih dalam kondisi terkendali.
"Hingga saat ini belum ada laporan pasien yang mengalami komplikasi berat maupun kasus kematian akibat campak ataupun rubella," jelasnya.
Dinkes juga memastikan kondisi para pasien terpantau baik dan tidak ditemukan gejala yang mengarah pada komplikasi serius.
Sebagai langkah pencegahan, petugas kesehatan terus melakukan pelacakan kontak erat terhadap pasien positif serta memperkuat pengawasan di lingkungan sekitar.
Masyarakat juga diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam tinggi yang disertai munculnya bercak merah pada kulit.
Selain itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat, melengkapi imunisasi anak, serta penggunaan masker di tempat umum yang padat menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan penyakit di tengah tingginya mobilitas penduduk Banjarbaru.
Editor : Eddy Hardiyanto