Batu empedu merupakan salah satu penyakit saluran cerna yang sering dijumpai. Sebagian besar penyakit ini tidak menimbulkan gejala atau asimptomatik. Gejala klinis yang dapat timbul berupa nyeri perut kanan atas berkala atau episodic, kolesistitis akut, ikterus obstruktif, kolangitis, dan pankreatitis.
Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita yang semakin bertambah dengan meningkatnya usia. Perbandingan antara wanita dan pria sebesar 3:1 pada kelompok usia produktif dan berkurang menjadi <2:1 pada usia >70 tahun.
Orang dengan infeksi usus halus luas atau riwayat reseksi usus halus yang disertai gangguan sirkulasi enterohepatik memiliki risiko tinggi pembentukan batu empedu karena hilangnya asam empedu yang berlebihan.
Faktor genetik juga terlihat pada pembentukan batu empedu, dibuktikan dengan prevalensi batu empedu yang tersebar luas diantara berbagai bangsa dan ras tertentu.
Faktor gaya hidup seperti diet makanan, obesitas, penurunan berat badan, dan aktivitas fisik yang rendah juga mempengaruhi insiden batu empedu.
Kolik ini ditemukan di kuadran kanan atas atau epigastrium yang dapat menjalar ke punggung bagian kanan atau bahu kanan. Nyeri ini bersifat episodik dan dapat ditimbulkan oleh makan makanan berlemak. Nyeri sering timbul pada malam hari. Nyeri timbul karena spasme disekitar duktus sistikus yang tersumbat. Kolik ini dimulai tiba-tiba dan intensitas meningkat tajam dalam waktu 15 menit dan menetap selama 3 sampai 5 jam.
Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah USG, CT Scan Abdomen, MRI-MRCP, ERCP, PTC, dan skintigrafi hepatobilier. Batu empedu dilakukan tata laksana dengan 3 cara yaitu tata laksana umum, teknik non bedah dan teknik bedah.
Tata laksana umum yaitu tirah baring, pemberian cairan intravena, diet ringan tanpa lemak, menurunkan berta badan, pemberian antibiotika jika didapatkan tanda infeksi, dan obat penghilang nyeri.
Teknik non bedah yaitu terapi pelarutan secara kontak dengan zat pelarut MTBE. Zat ini disuntikkan langsung ke kandung empedu secara perkutan dan akan melarutkan batu kolesterol dalam waktu 1—3 hari. Teknik bedah yaitu dengan teknik operasi terbuka dan laparoskopi. Teknik operasi terbuka dilakukan dengan membuat insisi di garis tengah perut bagian atas atau bawah arkus kosta kanan. Teknik laparoskopi merupakan tindakan minimal invasif.
RSU Syifa Medika sudah banyak menangani kasus batu empedu baik yang tanpa komplikasi maupun dengan komplikasi. Pada awal pelayanan RS, tata laksana batu empedu dilakukan dengan teknik terbuka (Laparotomi). Setelah pandemi tahun 2021, tata laksana batu kandung empedu (GB) sudah dilakukan dengan teknik laparoskopi yang memenuhi indikasi dan syarat.
Dalam waktu 6 bulan (November 2025—April 2026), telah dilakukan laparokopi sebanyak 33 kasus, teknik terbuka sebanyak 7 kasus, dan teknik laparoskopi yang diubah menjadi teknik terbuka sebanyak 2 kasus. Teknik terbuka dilakukan pada batu saluran empedu selain kandung empedu (GB).
In Syaa Allah dalam waktu dekat, RSU Syifa Medika dapat menangani batu empedu dengan lebih baik dikarenakan telah disiapkan Choledoscopy. Dengan adanya alat ini, dapat mengevaluasi diagnostik dan terapetik saluran empedu dengan baik secara visual dan menentukan clearance saluran empedu dengan baik.
Secara terapetik, dengan alat ini, batu di saluran empedu dapat diambil dengan basket batu atau ballon dan mengurangi cedera saluran. Apabila clearance saluran empedu bersih, tidak diperlukan pemasangan selang (T-tube) setelah operasi selama 14 hari. Hal ini mengurangi ketidaknyamanan pasien dan komplikasi lainnya.