RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Warga Kota Banjamasin tercatat jadi yang paling sering menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum sepanjang tahun 2025. Data resmi menunjukkan, 946 rawat inap atau 22,37 persen di RSJ Sambang Lihum merupakan warga Kota Banjarmasin.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Banjar dengan 762 rawat inap (18,01 persen), disusul warga Kabupaten Tanah Laut sebanyak 439 rawat inap (10,38 persen), Barito Kuala 363 rawat inap (8,58 persen), dan Banjarbaru 246 rawat inap (5,81 persen).
Secara keseluruhan, RSJ Sambang Lihum mencatat 4.228 rawat inap pasien sepanjang 2025, dengan 10 kabupaten/kota menyumbang 86,33 persen dari total kunjungan.
DIHARAPKAN OMDK SAJA
Direktur RSJ Sambang Lihum, Yuddy Riswandhy Noora membenarkan data tersebut. Ia menekankan perlunya penguatan pendampingan komunitas agar pasien tidak kembali jatuh ke kategori Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). "Kita harapkan cukup sampai ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan, red) saja, sehingga bisa secara mandiri berobat jalan," ujarnya.
PADAT PENDUDUK
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banjarmasin, Muhammad Lufi Fadhillah menegaskan angka tersebut adalah jumlah kasus rawat inap, bukan jumlah individu.
Menurut Lufi, tingginya angka rawat inap warga Kota Banjarmasin di RSJ Sambang Lihum dinilai wajar, mengingat status Kota Banjarmasin yang merupakan kota metropolitan dengan penduduk terbanyak di Kalsel.
"Misalnya A, masuk tiga kali (rawat inap, red), maka dihitung tiga. Jadi bukan jumlah orangnya. Mungkin tekanan kehidupan tinggi dan tak luput dari penduduk (Banjarmasin, red) yang cukup padat," jelasnya.
JANGAN DITELANTARKAN
Terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Atmi menegaskan ODGJ tidak bisa disembuhkan total, sehingga intervensi berjenjang menjadi kunci.
Puskesmas bersama kader kesehatan jiwa di masyarakat bertugas memastikan pasien tetap menjalani pengobatan rutin pascarawat. Selain itu, skrining kesehatan mental dilakukan di sekolah dan kelompok remaja untuk mencegah masalah berkembang menjadi gangguan jiwa berat.
"Dukungan keluarga dan masyarakat sangat kami perlukan. Jangan sampai ada penelantaran, tetapi justru menerima kembali," tegas Atmi.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief