RADARBANJARMASIN.JAWAPOA.COM,BANJARMASIN – Upaya pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Kota Banjarmasin dinilai sudah berjalan maksimal di lapangan. Namun, banyaknya data pelayanan yang belum berhasil terinput ke sistem membuat capaian program KB masih terlihat rendah.
Hal itu disampaikan Kepala DPPKBPM Kota Banjarmasin, Ahmad Syauqi usai kegiatan Peningkatan Kapasitas Petugas Lini Lapangan dan Kader KB dalam Pengelolaan Alokon (alat, obat, dan kontrasepsi), Senin (18/5/2026) pagi.
Menurutnya, para kader KB dan petugas lapangan sebenarnya sudah bekerja keras memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan dalam beberapa kegiatan massal, pelayanan yang dilakukan di lapangan disebut cukup banyak.
Namun, kendala justru muncul saat proses pelaporan dan penginputan data ke aplikasi milik pemerintah pusat. Akibatnya, pelayanan yang sudah dilakukan tidak seluruhnya tercatat dalam sistem.
“Pelayanan di lapangan sebenarnya lebih banyak dari yang tercatat. Tapi saat penginputan ada kendala, mulai dari HP yang sudah lama sampai keterlambatan pelaporan,” ujarnya.
Syauqi menjelaskan Kota Banjarmasin mendapat target pelayanan KB cukup tinggi, karena jumlah penduduk yang besar. Dalam beberapa momen pelayanan massal, target peserta bahkan bisa mencapai lebih dari seribu akseptor.
Sayangnya, capaian yang masuk dalam laporan terkadang hanya sekitar 10 persen dari target tersebut. Padahal, menurutnya, kondisi di lapangan tidak demikian.
Ia menyebut pelaporan pelayanan KB harus dilakukan setiap hari. Jika terlambat, data akan menumpuk hingga akhirnya tidak sempat terinput sebelum sistem pelaporan ditutup.
“Jadi yang bekerja ini sebenarnya sudah maksimal. Hanya saja saat masuk ke aplikasi sering terkendala. Akhirnya pelayanan yang sudah dilakukan tidak semuanya tercatat,” katanya.
Melalui kegiatan peningkatan kapasitas tersebut, DPPKBPM berupaya meningkatkan kemampuan kader dan petugas lapangan, baik dalam administrasi penyaluran alat kontrasepsi maupun penggunaan aplikasi pelaporan milik Pemerintah Pusat.
Selain itu, pihaknya juga membuka kemungkinan penggunaan perangkat bersama bagi kader yang terkendala sarana penunjang seperti telepon genggam.
“Kader kita banyak yang sudah berusia lanjut, tapi semangatnya luar biasa. Nanti akan kita carikan solusi supaya pelaporan bisa lebih maksimal,” pungkas Syauqi.
Editor : Fauzan Ridhani