Di tengah panjangnya masa tunggu, ribuan calon jemaah haji Kalsel berangkat dengan kondisi fisik yang tak lagi prima.
***
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Menunaikan ibadah haji menuntut kesiapan komprehensif, mulai dari aspek finansial hingga kesiapan mental dan fisik yang prima. Masa tunggu mencapai 20 tahun lebih, secara signifikan berimplikasi pada profil jemaah yang didominasi oleh usia lanjut dengan kondisi fisik yang tak lagi bugar.
Calon Jemaah Haji (CJH) asal Kalsel dengan kategori Risiko Tinggi (Risti) jumlahnya tak sedikit. Bahkan terdapat di semua kabupaten/kota se Kalsel. Berdasarkan data Proporsi Katagori Risiko Kesehatan (CJH) Kalsel Tahun 2026, sebanyak 59 persen jemaah dinyatakan masuk dalam zonasi Risti.
Angka tersebut merupakan akumulasi dari jemaah Risti ringan sebesar 31 persen, Risti Sedang 19 persen, dan Risti Berat yang mencapai 9 persen. Sementara itu, jemaah yang benar-benar bersih dari catatan risiko kesehatan (Tidak Risti) hanya berkisar 41 persen.
Di Banjarmasin, dari total 720 jemaah, 487 orang atau 68 persen masuk kategori risiko mulai dari berat, sedang dan ringan. Dinkes Kota Banjarmasin mencatat, 144 jemaah tergolong risiko berat, 151 risiko sedang dan 192 risiko ringan. Sementara hanya 233 jemaah yang dinyatakan tidak berisiko.
Bahkan, jemaah yang berisiko berat tersebut, naik tujuh persen dibandingkan tahun 2025 lalu yang hanya mencapai 13 persen. “Mayoritas CJH menderita hipertensi, hiperlipidemia dan diabetes melitus,” beber Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Dwi Atmi Susilastuti.
Jumlah CJH dengan kategori Risti juga tak sedikit terdapat di Kabupaten Banjar. Dari total 671 jemaah, sebanyak 127 orang masuk kategori risti dan memerlukan pemantauan intensif. Mayoritas jemaah berada pada rentang usia 54 hingga 64 tahun.
“Sekitar 18 persen jemaah merupakan lansia dan risiko tinggi,” terang Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Banjar, Erfan Maulana.
Sebagai langkah antisipasi hal-hal yang tak diinginkan seperti mengalami kelelahan berlebih, jemaah dengan kategori Risti akan diberangkatkan menggunakan skema murur. Dalam skema murur, jemaah tidak perlu turun dan bermalam di Muzdalifah. Mereka cukup melintas dan singgah sejenak di dalam bus sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina. “Skema murur ini menjadi bagian dari perlindungan bagi jemaah rentan agar kondisi fisik mereka tetap terjaga,” jelas Erfan.
Sementara, jemaah asal Kota Idaman yang tergabung dalam kloter BDJ-10, terdapat 50 CJH yang masuk daftar prioritas pengawasan. Bahkan 7 orang jemaah mesti membutuhkan perhatian khusus. “Terdapat 42 persen risti ringan, serta masing-masing 11 persen untuk kriteria risti sedang dan risti berat. Sementara sisanya, yakni 36 persen CJH, masuk kriteria non-risiko,” terang Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru, Siti Ningsih.
Jumlah CJH dengan kategori Risti juga ditemukan tak sedikit di Kotabaru. Di daerah pesisir ini, bahkan trennya mengalami lonjakan signifikan. Jika tahun 2025 jumlahnya sebanyak 53 orang atau sekitar 29,78 persen, tahun ini mencapai 43,52 persen. “Tahun ini ada peningkatan jumlah jemaah. Seiring itu, jumlah jemaah yang masuk kategori risiko tinggi juga bertambah,” terang Kadinkes Kotabaru, Erwin Simanjuntak.
Sedangkan di kawasan Banua Anam, jumlah CJH kategori risti juga tak sedikit. Di HST contohnya, dari total 332 jemaah, sebanyak 233 orang masuk kategori risti. Dari jumlah tersebut, rinciannya 58 orang masuk kategori risiko tinggi berat, 60 orang risiko tinggi sedang, dan 115 orang risiko tinggi ringan.
KONDISI KESEHATAN CJH KALSEL
- Risti Ringan (31%): 1.822 jemaah
- Risti Sedang (19%): 1.117 jemaah
- Risti Berat (9%): 529 jemaah
KELUHAN
- Hipertensi
- Diabetes
- Kolesterol
- Gangguan Jantung
- Demensia
- TBC
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief