Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jemaah Haji Kalsel Dominan Miliki Penyakit Kronis, Pola Hidup Masyarakat Turut Menentukan Kualitas Kesehatan

Endang Syarifuddin • Senin, 18 Mei 2026 | 09:08 WIB
Kasi Pelayanan Medik RS Sultan Suriansyah Banjarmasin, dr Hasrullah Anam
Kasi Pelayanan Medik RS Sultan Suriansyah Banjarmasin, dr Hasrullah Anam

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Penyakit kronis masih menjadi langganan calon jemaah haji (CJH) asal Kalsel. Dari hasil pemeriksaan kesehatan, hipertensi dan diabetes melitus tercatat sebagai dua penyakit paling dominan yang dialami jemaah. Hampir setiap tahun.

Kasi Pelayanan Medik RS Sultan Suriansyah Banjarmasin, dr Hasrullah Anam menyebut, dua penyakit di atas masih mendominasi. Penyebabnya karena pola hidup masyarakat, terutama konsumsi makanan tinggi santan, garam, dan lemak, ditambah faktor usia.

“Rata-rata jemaah Kalsel di atas 40 tahun. Hipertensi dan diabetes itu paling sering ditemukan. Disusul kolesterol tinggi,  gangguan jantung, demensia, dan TBC, tapi tidak sebanyak dua itu,” ujarnya.

Temuan itu cukup mendasar. Pasalnya ia dua kali menjadi petugas pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Kalsel “Khusus demensia parah, kalau masih mampu mandiri, biasanya masih bisa berangkat dengan pendampingan. Tapi kalau sudah tidak mampu merawat diri, itu jadi pertimbangan besar,” jelasnya.

Selain penyakit kronis, ancaman lain yang tak kalah serius adalah infeksi saluran pernapasan (ISPA). Kasus ini cenderung melonjak saat puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina), ketika jemaah berkumpul dalam satu lokasi dengan kondisi padat dan cuaca ekstrem.

“Di suhu ekstrem, bahkan pernah mendekati 50 derajat, kasus ISPA bisa sangat tinggi. Pernah hampir 90 persen jemaah mengalami gejala,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah dengan interaksi jemaah dari berbagai negara, yang mempercepat penularan penyakit. Bagi jemaah dengan penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes, ISPA bisa memicu komplikasi yang lebih berat. “Batuk saja bisa mengganggu istirahat. Kalau sudah ada riwayat jantung atau darah tinggi, risikonya bisa berlipat,” katanya.

Risiko itu semakin tinggi pada jemaah lansia. Selain faktor usia, banyak di antara mereka memiliki lebih dari satu penyakit kronis. “Dalam satu orang bisa ada dua sampai tiga diagnosis. Ini yang membuat lansia jauh lebih rentan,” jelasnya.

Ibadah haji dikenal sebagai ibadah fisik berat. Jemaah dituntut berjalan kaki hingga 7-10 kilometer dalam kondisi berdesakan dan suhu panas. “Ini tidak ringan. Kalau fisik tidak siap, risiko komplikasi seperti stroke, serangan jantung, sampai pneumonia bisa terjadi,” paparnya.

Sejumlah kondisi bahkan menjadi penghalang keberangkatan, seperti gagal ginjal stadium akhir yang harus cuci darah, gagal jantung berat, kanker stadium lanjut, hingga penyakit menular seperti TBC aktif. “Kalau TBC, selain berisiko bagi pasien, juga membahayakan jemaah lain dan keselamatan penerbangan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya persiapan kesehatan sejak jauh hari. Idealnya, jemaah sudah mulai mengontrol penyakitnya minimal satu hingga dua tahun sebelum keberangkatan. “Banyak kasus stroke atau gagal ginjal muncul menjelang berangkat karena penyakit tidak terkontrol. Padahal ini bisa dicegah,” katanya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #haji #lansia