RADAR BANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Kebutuhan darah di Banjarmasin melonjak tajam. Jika sebelumnya hanya sekitar 2.500 kantong per bulan, kini permintaannya mencapai hingga 6 ribu kantong per bulan. Kondisi itu membuat Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Banjarmasin harus bekerja ekstra keras menjaga stok darah tetap aman.
Kepala UDD PMI Banjarmasin, Aulia Ramadhan Supit mengatakan peningkatan kebutuhan darah paling terasa saat musim penghujan. Ketika kasus demam berdarah meningkat, permintaan trombosit ikut melonjak tajam.
“Sekarang kebutuhan darah bisa sampai 6 ribu kantong per bulan. Padahal sebelumnya sekitar 2.500 kantong saja,” ujar pria yang biasa disapa Rama ini kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (17/5/2026) siang.
Di sisi lain, kemampuan PMI memenuhi kebutuhan darah masih berada di kisaran 4.500 hingga 5 ribu kantong per bulan. Kondisi itu membuat distribusi darah harus dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kebutuhan pasien.
“Kalau kebutuhan lima kantong misalnya, kadang kami bagi dulu sambil terus mencarikan tambahan pendonor,” katanya.
Menurut dia, stok darah jenis sel darah merah atau red cell sejauh ini masih relatif aman. Namun, untuk trombosit, PMI harus bergerak cepat karena masa simpan komponen darah tersebut hanya empat hari.
“Darah trombosit tidak bisa disimpan lebih dari 4 hari, sudah kadaluarsa dan tidak bisa digunakan lagi," jelasnya.
Rama menambahkan satu pasien demam berdarah bahkan bisa membutuhkan enam hingga sepuluh kantong trombosit. Hal itulah yang membuat pencarian pendonor sering dilakukan secara mendadak.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, PMI kini mengandalkan database lebih dari 100 ribu pendonor yang sudah terdata di sistem mereka. Pendonor akan langsung dihubungi melalui sistem blasting WhatsApp ketika ada kebutuhan darah tertentu.
“Kalau ada kebutuhan darah golongan tertentu, tinggal kami pilih pendonor terdekat, lalu langsung dihubungi,” ujarnya.
Aulia juga menegaskan pihaknya kini mempersempit ruang gerak praktik percaloan darah. Ia meminta keluarga pasien tidak lagi mencari pendonor sendiri ketika stok darah kosong.
“Kalau stok kosong, biar kami yang mencarikan. Jangan keluarga pasien mencari sendiri, karena itu bisa membuka peluang adanya calo darah,” tegasnya.
Selain memenuhi kebutuhan darah di PMI, pihaknya juga rutin melakukan dropping darah ke sejumlah rumah sakit di Banjarmasin. Mulai dari rumah sakit milik daerah seperti RSUD Ulin dan Sultan Suriansyah, hingga swasta.
Sementara ini yang paling tinggi kebutuhan darah adalah RSUD Ulin. “Minimal sekitar 50 kantong per hari kami dropping ke Ulin,” pungkas Rama.
Editor : Fauzan Ridhani