Kasus Campak di Balangan Melonjak, 30 Temuan Positif Sejak Januari
M Dirga• Jumat, 1 Mei 2026 | 13:34 WIB
WASPADA CAMPAK: Petugas medis saat melakukan pemeriksaan kesehatan pada anak-anak.(Juhriadi untuk Radar Banjarmasin)
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Ancaman penyakit campak di Kabupaten Balangan kian nyata. Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) mengungkap temuan 30 kasus positif dari hasil uji laboratorium terhadap 71 sampel praduga yang dikirimkan sejak awal tahun hingga April 2026 ini.
Angka ini diprediksi masih bisa bertambah. Pasalnya, otoritas kesehatan kembali mengirimkan 16 sampel praduga baru ke laboratorium di Banjarbaru untuk memastikan status pasien yang menunjukkan gejala serupa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Balangan, Juhriadi membenarkan adanya tren peningkatan tersebut. Berdasarkan hasil investigasi lapangan, sebaran virus ini terdeteksi di beberapa kecamatan, dengan titik koordinat kasus terbanyak berada di wilayah Kecamatan Paringin.
"Baru-baru ini kami kirimkan 71 sampel dari kasus dugaan campak yang ditemukan di Balangan dan hasilnya 30 sampel positif. Per hari ini pula sebanyak 16 sampel praduga campak kembali dikirimkan, kami masih menunggu hasilnya," ujar Juhriadi, Jum'at (1/5).
Temuan di lapangan menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Mayoritas penderita adalah anak-anak yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi campak. Kondisi ini membuat pertahanan tubuh mereka sangat lemah saat terpapar virus. Tak hanya anak-anak, balita usia delapan bulan hingga orang dewasa pun mulai dilaporkan terjangkit.
Dampak dari infeksi ini tidak bisa disepelekan. Beberapa pasien bahkan harus dilarikan ke Puskesmas dan rumah sakit karena mengalami komplikasi serius yang mengancam nyawa.
“Kondisi paling parah yang kami temukan adalah komplikasi pneumonia dan rata-rata pasien telah menjalani perawatan di Puskesmas dan rumah sakit,” tegas Juhriadi.
Pneumonia atau radang paru-paru merupakan salah satu komplikasi campak yang paling mematikan bagi anak-anak. Hal ini memaksa petugas kesehatan untuk melakukan tindakan darurat dengan turun langsung ke desa-desa dan sekolah dasar (SD) guna menyisir anak-anak yang belum terlindungi imunisasi.
Langkah jemput bola ini dilakukan untuk memburu kekebalan kelompok (herd immunity) yang selama ini bolong di beberapa wilayah. Menurut Juhriadi, jika cakupan imunisasi di suatu lingkungan rendah, maka penularan virus campak akan terus berlanjut dan memakan korban baru.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak mengabaikan gejala panas tinggi yang disertai bercak merah pada anak. Kesadaran untuk melengkapi imunisasi dan melakukan isolasi mandiri saat ditemukan gejala menjadi kunci utama agar ledakan kasus campak di Balangan tidak semakin meluas dan berujung pada kematian.