Kehilangan satu atau beberapa gigi sekaligus sering kali dianggap hal yang wajar di tengah masyarakat, terutama jika tidak mengganggu penampilan. Kondisi ompong (istilah yang populer di masyarakat untuk kehilangan gigi) atau edentulous (istilah medis) dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan rongga mulut dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kondisi ompong ini dapat menyebabkan pergeseran gigi antagonis dan gigi sebelahnya. Gigi yang kehilangan lawannya cenderung mengalami ekstrusi atau memanjang dari soketnya. Gigi yang di sampingnya ompong akan miring ke arah ompong tersebut. Keadaan ini akan mengganggu oklusi dan memicu gangguan sendi rahang.
Orang yang ompong pasti terganggu pengunyahannya karena makanan tidak tercerna secara sempurna. Meningkatkan beban kerja lambung dan jangka panjangnya akan menimbulkan penyakit gangguan pencernaan.
Akar gigi menjaga kepadatan tulang rahang karena ada stimulasi mekanis saat mengunyah. Dengan kondisi ompong stimulasi menjadi hilang dan tulang mengalami penyusutan. Selanjutnya bisa merubah penampilan wajah menjadi kempot.
Kehilangan gigi, khususnya gigi depan, akan mempengaruhi pelafalan huruf desis seperti S dan Z. Otomatis dengan ompong gigi depan akan menurunkan kepercayaan diri pasien dalam beraktivitas, terutama yang bekerja dalam bidang komunikasi publik.
Secara prinsip gigi yang hilang perlu segera diganti, kecuali gigi geraham bungsu. Penggantian dianjurkan sesegera mungkin, kurang lebih 6 bulan sejak pencabutan gigi. Penundaan pemasangan gigi tiruan akan menyebabkan permasalahan menjadi kompleks dan biaya menjadi lebih besar, karena resorbsi tulang menjadi luas dan kemungkinan ruang yang ompong menjadi sempit.
Banyak model gigi tiruan yang berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran gigi. Saat ini ada tiga macam gigi tiruan yang lazim dikenal dalam dunia kedokteran gigi: gigi tiruan lepasan, gigi tiruan jembatan dan gigi tiruan implan. Gigi tiruan lepasan berbasiskan plat akrilik atau logam yang bisa dilepas-pasang oleh pasien. Biaya sangat terjangkau, proses pembuatan relatif cepat tetapi kurang stabil, efisiensi mengunyah berkurang dan harus dilepas saat tidur.
Gigi tiruan jembatan merupakan mahkota gigi tiruan yang ditopang oleh gigi-gigi asli sebelah menyebelah yang sebelumnya telah dipreparasi. Bersifat cekat (tidak bisa dilepas-pasang), lebih nyaman dari gigi tiruan lepasan dan estetika bagus. Hanya saja kekurangannya gigi yang sebelah menyebelah dari ruang ompong tersebut harus mengalami preparasi dimana mahkota gigi yang utuh dan sehat dibuat sedemikian rupa (“dikorbankan”).
Merujuk pada literatur-literatur kedokteran gigi, saat ini gold standard gigi ompong adalah dental implant. Karena dental implant mampu menggantikan gigi yang hilang seutuhnya, yaitu mahkota dan akar gigi sekaligus, bagi pasien ini terasa lebih alami. Akar gigi akan digantikan dengan sekrup berbahan titanium yang ditanamkan ke dalam tulang dan kemudian mahkota gigi tiruan akan menumpang di atas sekrup tersebut. Sekrup ini akan mencegah terjadinya resorpsi tulang rahang dan mahkotanya secara estetik mendekati gigi aslinya baik dalam bentuk maupun warna. Dental implant ini tidak akan mengganggu gigi antagonis maupun gigi tetangganya.
Dental implant saat ini memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit jika dibandingkan dengan model gigi tiruan lainnya. Dalam pemasangannya memerlukan tindakan bedah ringan karena ada tindakan insisi gusi dan pengeboran tulang. Durasi perawatan implan dari tahap awal sampai dengan pemasangan mahkota memerlukan durasi yang panjang 3 – 6 bulan. Sebelum pemasangan tulang perlu dilakukan pengkajian analisis kepadatan dan ketinggian volume tulang yang baik, jika kualitas tulang kurang tebal dan tinggi maka memerlukan cangkok tulang.
Pemasangan dental implant harus memenuhi syarat tertentu agar bisa menjamin keberhasilannya. Tingkat keberhasilan pemasangan dental implant di dunia saat ini mencapai 95% dalam 10 tahun terakhir. Dental implant sangat ideal dipasang pada usia dewasa dimana pertumbuhan rahangnya sudah selesai, gusi sehat, tidak ada infeksi aktif, tidak merokok atau bersedia berhenti merokok sementara karena rokok menghambat proses penyembuhan dan tidak memiliki penyakit kronis tapi jika memiliki penyakit kronis (seperti DM) harus terkontrol.
Proses pemasangan dental implant dilakukan secara bertahap mulai dari konsultasi dan rontgen untuk mengetahui tingkat kesehatan dan kualitas tulang pasien. Kemudian dilakukan pemasangan implan dimana implan titanium ditanamkan ke dalam tulang rahang dan kemudian menunggu proses penyembuhan 3 – 6 bulan. Setelah pemeriksan lanjutan dan dinyatakan implan sudah tertanam sempurna baru dilakukan pemasangan mahkota giginya.
Perawatan pasca pemasangan dental implant sama seperti perawatan pada gigi asli. Sikat gigi sehari dua kali dan menggunakan benang gigi khusus implan, rutin kontrol ke dokter gigi, hindari menggigit yang keras dan stop merokok karena rokok akan meningkatkan risiko kegagalan implant dua kali lipat.
Dental implant memang bukan solusi untuk semua orang, karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Tapi dental implant ini adalah investasi jangka panjang mengingat keawetan dan keunggulannya. Tingkat kepuasan pasien lebih banyak ditemui pada pasien-pasien yang memakai dental implant jika dibandingkan model gigi tiruan lainnya.
Editor : Nurhidayat