RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Status Kabupaten Banjar sebagai daerah eliminasi malaria sejak 2022 kini menghadapi ujian serius. Meski penularan lokal tidak ditemukan, ancaman malaria impor justru meningkat tajam.
Dalam triwulan pertama 2026, tercatat 24 kasus, mendekati total kasus sepanjang 2025 yang kala itu berjumlah 30.
Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Dian Marliana, menegaskan bahwa eliminasi malaria tidak berarti ancaman telah hilang. Mobilitas penduduk dari daerah endemis menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai. “Wilayah yang sudah bebas malaria tetap berisiko terjadi penularan kembali karena keberadaan vektor dan mobilitas penduduk,” ujarnya, Selasa (28/4).
Sementara, Plt Kepala Dinas Kesehatan Banjar, M. Noripansyah, menjelaskan mayoritas kasus berasal dari warga Banjar yang bekerja di daerah endemis, terutama wilayah pertambangan dan perhutanan di luar daerah, termasuk Kotabaru.
Dari 24 kasus awal 2026, ia menyebutkan sebanyak 22 pasien merupakan warga Banjar, sedangkan masing-masing satu berasal dari Tapin dan Barito Kuala. Kasus tersebut terdeteksi di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Puskesmas Pengaron, Sungai Pinang, Martapura 1, RSUD Ratu Zalecha, hingga RS Pelita Insani.
Pemerintah daerah kini memusatkan perhatian agar kasus impor tidak berkembang menjadi penularan lokal. Upaya dilakukan melalui penguatan deteksi dini serta pelibatan aparatur kecamatan dan desa untuk memantau warga yang baru pulang dari daerah berisiko. “Kita tidak bisa membatasi mobilitas warga, tapi penularan bisa dicegah dengan meningkatkan kesadaran untuk segera berobat,” tekannya.
Pemkab Banjar menargetkan tidak hanya mempertahankan status eliminasi, tetapi juga mendukung capaian Indonesia bebas malaria pada 2030.
Maka, masyarakat diingatkan untuk mengenali gejala malaria, seperti demam tinggi disertai menggigil, berkeringat, sakit kepala, dan lemas. Gejala ini kerap menyerupai demam berdarah atau tipes, sehingga perlu dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Selain itu, warga diminta waspada terhadap gigitan nyamuk Anopheles yang aktif pada malam hari, mulai pukul 18.00 hingga 06.00 Wita. “Pengobatan di puskesmas gratis dan bisa sembuh jika ditangani tuntas. Kami minta warga segera memeriksakan diri jika demam lebih dari tiga hari,” katanya
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief