RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA - Di balik tembok Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan, harapan tumbuh dari sesuatu yang sederhana: daun mint.
Senin pagi (13/4/2026), sejumlah warga binaan tampak telaten memanen daun mint. Dengan gunting kecil, mereka memotong daun yang siap panen, menyisakan batang agar tanaman tetap tumbuh. Semua dilakukan penuh ketelitian.
Dari proses itulah lahir “Laskarin”, teh mint herbal yang kini menjadi produk unggulan lapas.
Tanaman mint tersebut dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik, solusi efektif di tengah keterbatasan lahan. Dari panen terbaru, sebanyak 3 kilogram daun mint segar berhasil dikumpulkan.
Setelah melalui proses pengeringan, hasilnya menjadi sekitar setengah kilogram teh siap olah dengan nilai jual lebih tinggi.
Pengolahan dilakukan bertahap, mulai dari penyortiran, pencucian, pengeringan alami, hingga pengemasan higienis. Hasilnya adalah teh herbal dengan aroma segar yang juga bermanfaat bagi kesehatan.
Salah satu warga binaan, Aulia, mengaku bangga bisa terlibat dalam program ini.
“Kami jadi punya keterampilan dan merasa lebih semangat karena hasilnya nyata,” ujarnya.
Ia menilai sistem hidroponik sangat membantu, sekaligus membuka peluang bagi warga binaan untuk tetap produktif selama menjalani masa pembinaan.
Kepala Lapas Narkotika Karang Intan, Yugo Indra Wicaksi, menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian.
“Kami ingin program pembinaan memberi manfaat nyata, mulai dari keterampilan hingga peluang usaha saat mereka kembali ke masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, Teh Mint Laskarin menjadi bukti bahwa warga binaan mampu berkarya dan berkontribusi positif.
Lebih dari sekadar produk, program ini juga mendukung upaya ketahanan pangan berbasis pemberdayaan.
Di tempat yang sering dipandang sebagai batas kebebasan, justru tumbuh semangat untuk berubah.
“Di balik tembok pemasyarakatan, selalu ada kesempatan untuk tumbuh dan memberi arti,” pungkas Yugo.
Editor : Eddy Hardiyanto