BANJARMASIN – Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Banjarmasin terus diperkuat. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPKBPM) Kota Banjarmasin kini menyiapkan skema kolaborasi lanjutan dengan perguruan tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.
Kepala DPPKBPM Kota Banjarmasin, M Helfiannoor mengatakan langkah ini merupakan tindak lanjut dari sinergi yang sebelumnya telah dibangun bersama sejumlah kampus. Kolaborasi tersebut diarahkan agar mahasiswa dapat terlibat langsung dalam upaya pencegahan stunting di lapangan.
“Kolaborasi dengan kampus terus kita dorong. Salah satunya melalui KKN tematik yang difokuskan pada penanganan dan pencegahan stunting,” ujarnya usai sosialisasi di Akbid Sari Mulia, Rabu (7/4/2026).
Baca Juga: Urgensi Membaca dan Menulis Bagi Siswa SD
Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga berperan aktif melakukan intervensi di masyarakat. Terutama di kawasan yang dinilai memiliki risiko tinggi, seperti wilayah bantaran sungai dan kawasan permukiman kumuh.
“Kami membuka ruang bagi mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan, termasuk di lingkungan sekitar mereka sendiri, guna membantu upaya pencegahan stunting,” jelasnya.
Selain itu, mahasiswa juga didorong menjadi agen edukasi bagi masyarakat, khususnya terkait perencanaan keluarga. Edukasi tersebut mencakup pentingnya kesiapan sebelum menikah, penggunaan alat kontrasepsi, hingga penundaan kehamilan bagi pasangan yang belum siap.
Baca Juga: Belajar dari Gandus untuk Banua
“Peran mahasiswa sangat strategis, terutama dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat, termasuk kepada pasangan usia subur agar lebih siap dalam merencanakan kehamilan,” tambahnya.
Helfiannoor mengungkapkan sejumlah wilayah di Banjarmasin Timur, khususnya kawasan bantaran sungai, masih tergolong rawan stunting. Hal ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, hingga keterbatasan akses sanitasi layak.
“Berdasarkan hasil audit kasus, kawasan tersebut memang memiliki risiko tinggi. Banyak keluarga berada di kategori ekonomi rendah dan kondisi lingkungannya belum mendukung,” ungkapnya.
Baca Juga: KPK Endus Keuntungan Ilegal, Sejumlah Penyedia Travel Haji Diperiksa
Ia menambahkan salah satu tantangan di kawasan bantaran sungai adalah keterbatasan pembangunan sanitasi sesuai standar kesehatan, terutama di area yang masuk jalur hijau.
“Di wilayah jalur hijau, kita tidak bisa membangun fasilitas sanitasi permanen sesuai standar. Ini menjadi kendala yang harus kita carikan solusinya bersama,” katanya.
Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, DPPKBPM Kota Banjarmasin berharap mahasiswa dapat membantu menjembatani antara teori yang didapat di bangku kuliah dengan kondisi riil di lapangan. “Mahasiswa bisa melihat langsung persoalan di masyarakat sekaligus mengaplikasikan ilmunya. Ini yang kita harapkan dari KKN tematik tersebut,” tutupnya.
Editor : Fauzan Ridhani