BANJARMASIN – Upaya menekan angka stunting di Kota Banjarmasin terus digencarkan. Kali ini, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPKBPM) Kota Banjarmasin menggandeng kalangan perguruan tinggi untuk memperkuat edukasi dari hulu.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan pertemuan sinergitas program Bangga Kencana bersama civitas akademika, salah satunya di lingkungan kampus ISFI Banjarmasin.
Kepala DPPKBPM Kota Banjarmasin, M Helfiannoor menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan visi Banjarmasin Maju dan Sejahtera. Termasuk melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
“Program ini tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi dengan semua stakeholder, termasuk dunia kampus. Mahasiswa kita dorong menjadi penyambung informasi kepada masyarakat,” ujarnya usai kegiatan, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan pemahaman terkait perencanaan keluarga, kesehatan reproduksi, hingga pencegahan stunting sejak dini. Terlebih, persoalan stunting tidak lepas dari fenomena pernikahan usia muda yang masih terjadi.
Ia mengungkapkan di sejumlah kawasan tekanan ekonomi masih menjadi alasan keluarga menikahkan anak di usia dini. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan generasi baru yang berisiko stunting.
“Ini yang harus kita cegah bersama. Mahasiswa bisa menjadi rekan sebaya yang memberikan edukasi, bagaimana kesiapan sebelum menikah, termasuk dari sisi kesehatan dan ekonomi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap kesehatan reproduksi bagi kalangan muda. Minimnya pengetahuan kerap membuat remaja terjebak dalam pergaulan bebas yang berdampak pada kesiapan membangun keluarga.
“Kalau mereka paham risiko dan fungsi organ reproduksi, tentu akan lebih berhati-hati. Edukasi ini penting agar tidak salah langkah,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Senat ISFI Banjarmasin, Yugo Susanto menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi merupakan langkah tepat dalam menyelesaikan persoalan sosial, khususnya stunting.
“Kampus pada dasarnya juga punya tanggung jawab meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Kolaborasi ini tentu kami sambut positif,” ucapnya.
Menurut Yugo, penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada Pemerintah semata. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk Perguruan Tinggi sebagai pusat edukasi dan pengembangan sumber daya manusia.
“Ini pekerjaan rumah bersama. Harus melibatkan multi sektor. Kampus punya peran strategis, apalagi mahasiswa berada di usia produktif dan akan memasuki fase berkeluarga,” jelasnya.
Pihak kampus siap menindaklanjuti kerja sama tersebut melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) serta pelaksanaan berbagai program edukasi dan pelatihan.
Lebih jauh, Yugo menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak sebelum pernikahan, bukan setelah kelahiran anak. “Justru di fase pra nikah ini yang paling penting. Mahasiswa perlu dibekali pemahaman, bahkan didorong menjadi agen sosialisasi di lingkungannya,” katanya.
Menurut dia, pendekatan melalui teman sebaya akan lebih efektif dalam menyampaikan pesan edukasi. “Kalau yang menyampaikan teman sendiri, biasanya lebih mudah diterima. Ini kekuatan yang harus dimanfaatkan,” tutupnya.
Editor : Fauzan Ridhani