BANJARBARU - Meningkatnya kasus campak di sejumlah daerah membuat tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) masuk kategori kelompok berisiko tinggi tertular.
Kementerian Kesehatan pun mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 yang menegaskan pentingnya peningkatan kewaspadaan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam edaran tersebut, rumah sakit dan puskesmas diminta memperketat skrining dan triase pasien sejak awal, menyiapkan ruang isolasi, serta memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD). Sistem pengendalian infeksi juga wajib diperkuat.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, dr Diauddin, mengakui adanya peningkatan kasus dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini menjadi alarm serius bagi seluruh daerah.
“Ya, ada peningkatan kasus. Ini jadi perhatian sehingga kewaspadaan terus kami tingkatkan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinkes Kalsel langsung bergerak cepat. Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk memperkuat surveilans aktif dan pemantauan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Selain itu, pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis terus didorong, disertai penguatan tatalaksana pasien serta respons imunisasi di lapangan.
Edaran juga telah disampaikan ke seluruh fasilitas kesehatan di Kalsel. Faskes diminta meningkatkan deteksi dini, terutama pada pasien dengan gejala demam dan ruam.
“Triase gejala harus diperketat. Pencegahan dan pengendalian infeksi juga harus disiplin diterapkan,” tegas Diauddin.
Ia mengingatkan, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Tanpa kewaspadaan maksimal, fasilitas kesehatan justru bisa menjadi titik penyebaran.
Karena itu, setiap laporan kasus harus ditindaklanjuti cepat.
“Begitu ada laporan, respons tidak lebih dari 24 jam,” katanya.
Pelaporan dilakukan melalui SKDR dan surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Jika ditemukan gejala seperti demam, ruam, batuk, atau pilek, maka langsung dilakukan investigasi epidemiologi hingga penegakan diagnosis.
Meski hingga kini belum ada laporan tenaga kesehatan di Kalsel yang tertular, risiko tetap mengintai.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta berperan aktif mencegah penyebaran. Salah satunya dengan melengkapi imunisasi anak dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala.
“Jangan menunda pemeriksaan. Ini penting untuk mencegah penularan lebih luas,” imbau Diauddin.
Kasus Dokter Meninggal Jadi Alarm Nasional
Kewaspadaan ini semakin menguat setelah muncul kasus meninggalnya seorang dokter internship di Cianjur, Jawa Barat, yang diduga akibat komplikasi campak.
Secara nasional, hingga pekan ke-11 tahun 2026 tercatat 58 kejadian luar biasa (KLB) di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi.
Jumlah kasus sempat mencapai 2.740 di awal tahun, sebelum menurun menjadi 177 kasus.
Kementerian Kesehatan menegaskan, campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga bisa berdampak fatal pada orang dewasa yang belum memiliki kekebalan.
Dengan tingginya risiko penularan, fasilitas kesehatan diminta tidak lengah, sementara masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menjaga imunisasi tetap lengkap.
Editor : Eddy Hardiyanto