Kalsel Waspada Campak, Dinkes Sebut Kasus Didominasi Anak Tanpa Imunisasi

Arif Subekti • Dipublikasikan Selasa, 31 Maret 2026 | 08:54 WIB
Petugas kesehatan melakukan imunisasi kepada anak di posyandu Kasus campak di Kalsel meningkat dan mayoritas terjadi pada anak yang belum imunisasi.(DINKES BANJAR)
Petugas kesehatan melakukan imunisasi kepada anak di posyandu Kasus campak di Kalsel meningkat dan mayoritas terjadi pada anak yang belum imunisasi.(DINKES BANJAR)

 

 BANJARBARU - Kasus campak di Kalimantan Selatan mulai menunjukkan tren peningkatan. Dinas Kesehatan Provinsi mencatat lonjakan kasus terjadi sejak akhir Januari 2026.

Meski demikian, hingga kini belum ada kabupaten/kota yang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). 

Namun, sejumlah kasus terkonfirmasi sudah ditemukan di beberapa daerah, seperti Hulu Sungai Utara, Tabalong, dan Balangan.

Hal tersebut sejalan dengan data sebaran kasus campak di Indonesia per pekan ke-11 yang dirilis Kemenkes RI beberapa waktu lalu.

Yang menjadi perhatian, hampir seluruh kasus yang ditemukan terjadi pada anak dengan status imunisasi yang tidak lengkap, bahkan belum pernah imunisasi sama sekali.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel dr Diauddin menegaskan, kondisi ini menunjukkan bahwa imunisasi masih menjadi faktor kunci dalam mencegah penularan campak.

“Berdasarkan hasil penelusuran, hampir semua kasus ditemukan pada anak yang belum pernah atau tidak lengkap imunisasinya,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2026) malam.

Data cakupan imunisasi memperkuat kondisi tersebut. Sepanjang 2025, cakupan imunisasi campak di Kalsel baru mencapai 73,78 persen. 

Angka itu masih jauh dari target nasional sebesar 85 persen.Bahkan, di sejumlah daerah, cakupan imunisasi masih tergolong rendah. 

Di Hulu Sungai Utara misalnya, cakupan hanya 49,47 persen. Disusul Balangan 56,46 persen dan Barito Kuala 59,08 persen.

Rendahnya cakupan ini membuat wilayah tersebut rentan menjadi kantong penularan.

“Campak sangat mudah menular, terutama pada kelompok yang belum memiliki kekebalan,” jelasnya.

Di sisi lain, Dinkes memastikan sistem deteksi dini dan respons kasus terus diperkuat. 

Setiap laporan kasus suspek, tegas Diauddin, akan ditindaklanjuti dalam waktu kurang dari 24 jam melalui surveilans dan investigasi lapangan.

Fasilitas kesehatan juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap pasien dengan gejala demam disertai ruam.

Namun, upaya peningkatan imunisasi di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. 

Mulai dari keterlambatan masyarakat datang ke layanan imunisasi, mobilitas penduduk, hingga masih adanya keraguan atau penolakan terhadap imunisasi.

“Karena itu, peningkatan cakupan tidak cukup hanya melalui pelayanan. Harus disertai pelacakan sasaran, edukasi konsisten, komunikasi risiko, sweeping anak yang belum imunisasi, serta dukungan lintas sektor,” tegasnya.

Diauddin mengimbau masyarakat tidak menunda imunisasi anak. Jika muncul gejala seperti demam dan ruam, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Segera lengkapi imunisasi anak dan jangan menunda pemeriksaan jika muncul gejala,” pungkasnya.

======

Berdasarkan data cakupan campak tahun 2025, kabupaten/kota yang belum mencapai target 85% adalah:
Tanah Bumbu: 82,67% 
Tapin: 78,03% 
Banjar: 69,98% 
Hulu Sungai Selatan: 69,28% 
Tanah Laut: 69,12% 
Kotabaru: 64,39% 
Tabalong: 60,66% 
Barito Kuala: 59,08% 
Balangan: 56,46% 
Hulu Sungai Utara: 49,47% 

Sedangkan kabupaten/kota yang telah mencapai atau melampaui target 85% yaitu:
Banjarbaru: 103,50% 
Banjarmasin: 89,97% 
Hulu Sungai Tengah: 87,86%

Editor : Arif Subekti
meningkat imunisasi Kasus Banjar Campak