Setiap 24 Maret, dunia memperingati World Tuberculosis Day atau Hari Tuberkulosis Sedunia. Momentum pengingat bahwa tuberkulosis (TBC) menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian serius.
Sejak 2022 sampai sekarang, TBC di Indonesia masih menempati urutan ke 2 tertinggi di dunia setelah India dan disusul Cina pada urutan ke 3. TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang paru serta organ diluar paru dan menular melalui secara droplet.
Penyakit ini sering berkembang secara perlahan dengan gejala yang kerap diabaikan. Batuk lebih dari dua minggu, dahak bercampur darah yang bergumpal, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, keringat malam, serta mudah lelah merupakan tanda yang perlu diwaspadai.
Banyak penderita baru memeriksakan diri saat kondisi sudah cukup berat. Padahal, TBC dapat disembuhkan apabila dideteksi sejak dini dan diobati secara teratur hingga tuntas. Deteksi dini atau skrining TBC sangat penting dilakukan. Idealnya satu orang positif menderita TBC maka orang2 yang satu rumah dengan penderita tersebut wajib dilakukan skrining.
Penanganan yang tepat tidak hanya menyembuhkan pasien, tetapi juga mencegah penularan kepada orang lain.
Peran pelayanan kesehatan, khususnya dokter Spesialis Paru, sangat penting dalam mendiagnosis dan menangani TBC secara komprehensif. Pemeriksaan seperti rontgen dada dan tes dahak membantu memastikan diagnosis serta memantau keberhasilan pengobatan.
Namun demikian, pencegahan tetap menjadi langkah utama. Masyarakat dapat berperan melalui kebiasaan sederhana, seperti menutup mulut saat batuk dan bersin, menggunakan masker saat sakit, menjaga sirkulasi udara di rumah, mengonsumsi makanan bergizi, segera memeriksakan diri jika batuk lebih dari dua minggu, menjalani pengobatan hingga tuntas
Melalui peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, diharapkan kesadaran masyarakat semakin meningkat bahwa TBC dapat dicegah dan disembuhkan.
Karena melawan TBC bukan hanya tentang kesehatan hari ini, tetapi juga tentang melindungi masa depan, dan mencapai goal WHO tahun 2030 untuk mengakhiri TBC.
Editor : Nurhidayat