BANJARBARU – Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat tren penurunan jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) dalam dua tahun terakhir.
Pada 2024 tercatat ada 96 ODHIV, namun di 2025 berkurang jadi 88 orang. Hal ini diduga karena ada banyak pasien yang tidak melanjutkan pengobatan atau loss to follow up (LTFU).
“Ini menjadi tantangan besar karena pengobatan HIV harus rutin. Jika pasien berhenti, maka akan berdampak pada kesehatan mereka,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dr. Juhai Triyanti Agustina dalam Rakor Antisipasi Penyebaran Penyakit HIV-AIDS, Senin (9/3).
Selain banyak yang berhenti berobat, ia mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir banyak ODHIV yang berdomisili dari luar Banjarbaru yang menjalani layanan kesehatan.
“Hal ini dimungkinkan karena Banjarbaru merupakan ibu kota provinsi sehingga banyak orang yang transit, sekadar berobat, atau sudah lama tinggal tetapi KTP masih luar daerah,” ujarnya.
Juhai menjelaskan, karakteristik pasien HIV juga berbeda dengan penyakit menular lainnya. Banyak pasien memilih berobat di fasilitas kesehatan yang jauh dari lingkungan tempat tinggalnya untuk menghindari stigma dari orang yang dikenal.
Dari sisi jenis kelamin, ODHIV di Banjarbaru didominasi laki-laki. Sementara dari kategori umur, mayoritas berada pada kelompok usia dewasa.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Sutrisno
Editor : Arief