KANDANGAN – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Data tahun 2025 mencatat, perilaku Laki-laki Seks Laki-laki (LSL) menjadi penyumbang terbesar dalam sebaran kasus HIV di wilayah tersebut.
Fenomena ini tidak lagi sekadar persoalan sosial, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Penyebaran virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu kini banyak terjadi pada kelompok usia produktif.
Dari total 27 pasien yang saat ini menjalani pengobatan intensif, mayoritas berusia antara 21 hingga 58 tahun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana HSS, Daru Priyanto, mengonfirmasi dominasi kelompok LSL dalam peta penularan HIV.
“Untuk tren kasus HIV di HSS, tercatat saat ini ada 27 kasus, dengan mayoritas disebabkan oleh aktivitas LSL,” ungkap Daru.
Berdasarkan data lapangan, kelompok LSL menempati urutan pertama dengan delapan kasus.
Disusul pasangan risiko tinggi sebanyak enam orang, pelanggan pekerja seks lima orang, serta kelompok waria dua orang.
Kasus lainnya ditemukan pada dua ibu hamil, dua orang populasi umum, serta masing-masing satu kasus pada pasangan ODHIV dan penderita tuberkulosis.
Sebaran tertinggi tercatat di Kecamatan Kandangan dengan delapan kasus, disusul Kecamatan Daha Selatan sebanyak lima kasus.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes PPKB HSS memperketat pengawasan dan skrining rutin untuk memutus mata rantai penularan.
“Untuk melakukan pencegahan ini, kami biasanya melakukan pemeriksaan terhadap ibu hamil, para tahanan di rutan, dan para calon pengantin yang akan menikah,” jelas Daru.
Pemerintah daerah menilai langkah tersebut penting sebagai upaya deteksi dini sekaligus perlindungan bagi keluarga dan masyarakat dari dampak jangka panjang HIV.
Editor : Eddy Hardiyanto