BANJARMASIN - Lelaki penyuka sesama jenis asal Banjarmasin berinisial Y mengisahkan ceritanya kepada Radar Banjarmasin. Ia mengaku memiliki alasan latar belakang keluarga kurang mendukung, sehingga membuatnya merasa lebih feminim.
Y adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Semua saudaranya perempuan, hanya kakak pertamanya yang merupakan anak laki-laki. Namun, usianya terpaut jauh dan jarang bertemu, hingga tidak terlalu dekat.
Sementara itu, sang Ayah lebih banyak bekerja dan jarang pulang. Di rumah, Y tinggal bersama tujuh perempuan, yakni ibu dan enam saudara perempuan.
Y menceritakan, saat duduk di bangku SMA, ia menjadi korban pelecehan sesama jenis yang dilakukan kakak kelasnya. “Itu bikin trauma untuk aku yang merasa sudah feminim. Sebelumnya, bahkan tidak tahu menahu tentang gay,” ujarnya.
Perlu diketahui, Y merupakan pendatang asal Sumatera. Sejak tahun 2021, ia tinggal di Banjarmasin dan bersentuhan langsung dengan perkumpulan LGBT yang diklaim terselubung, namun kenyataannya marak.
Y bilang, di Banjarmasin menemukan LGBT tergolong mudah. Ketika seseorang lelaki menunjukkan sisi feminim, maka akan semakin mudah diterima ke dalam kelompok penyuka sesama jenis.
Ia yang sudah punya feminim justru kerap lebih mudah digoda oleh sesama jenis. Lambat laun, Y mengaku terbawa arus dan makin penasaran menjalin hubungan dengan sesama pria.
Tahun 2023, Y mengaku pernah dimasukkan ke grup chat LGBT Kalsel dan Kalteng. Setelah itu, dimasukkan ke grup gay dengan nama wilayah di Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Hal ini sempat berlangsung beberapa kali hingga akhirnya memilih keluar.
Menurutnya, isi grup-grup tersebut sangat banyak anggota, bahkan hingga ribuan orang. Mulai lelaki tua sudah beristri, mahasiswa, remaja bahkan masih berstatus pelajar. “Meski aku juga pelangi, tetap ada rasa takut dimasukan ke grup. Sehingga cukup tanpa perkumpulan alias sendiri-sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, di Banjarbaru seorang pria berinisial R (32) mengaku mulai merasakan perbedaan dalam dirinya sejak kecil. Ia lebih menyukai mainan yang identik dengan perempuan dan memiliki sifat yang dianggap berbeda oleh lingkungan sekitarnya. Kondisi tersebut membuatnya kerap menjadi sasaran ejekan.
“Saat SD sampai sekolah sering dibully, dipanggil dengan sebutan yang merendahkan. Sempat sedih dan menangis, tapi lama-lama saya mencoba menerima diri,” ujarnya.
Kesadaran untuk mengenal sesama jenis semakin berkembang sekitar tahun 2011. Saat itu, ia mulai berinteraksi melalui BlackBerry Messenger (BBM), yang pada masanya menjadi sarana komunikasi utama di kalangan komunitas. “Awalnya dari broadcast di BBM. Dari situ kenal dengan teman-teman yang ternyata sesama. Lama-lama jadi jaringan pertemanan,” katanya.
Sejak lulus SMA pada 2013, R merantau dari Kalimantan Tengah ke Banjarmasin untuk bekerja sekaligus menjaga privasi dari lingkungan keluarga. Hingga kini, orientasi seksualnya belum diketahui keluarga. “Saya memilih menutup diri dari keluarga supaya tidak menimbulkan masalah,” ungkapnya.
Dalam kehidupan sosial, R menjelaskan bahwa relasi pertemanan maupun percintaan umumnya dibangun melalui platform digital, seperti media sosial dan aplikasi khusus. Prosesnya biasanya diawali dengan komunikasi daring, bertukar foto, hingga pertemuan langsung jika merasa cocok.
"Kayak dengan yang sekarang, aku sudah pacaran sesama jenis dari tahun 2019. Aku yang jadi boti nya," ucapnya lagi.
Dalam komunitas, ia juga mengenal sejumlah istilah peran dalam hubungan, seperti top dan bottom (atau boti), serta istilah lain yang digunakan dalam interaksi sehari-hari.
Sementara itu, pria yang meminta identitasnya dirahasiakan di Balangan mengaku orientasi seksualnya yang cenderung biseksual merupakan hasil dari proses panjang yang dipengaruhi lingkungan dan masa lalu.
Pengalaman traumatis serta pola asuh yang didominasi lingkungan perempuan sejak kecil diakui menjadi faktor pembentuk karakter seksualnya saat ini.
“Ada pengalaman traumatis di masa lalu. Selain itu, sejak kecil saya memang kerap dikelilingi perempuan. Saya satu-satunya anak lelaki di keluarga, kakak dan adik perempuan. Teman bermain sejak kecil pun lebih nyaman bergaul dengan perempuan. Belum lagi pengaruh konten-konten di media sosial yang sekarang sangat mudah diakses,” ungkapnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief