Perilaku lelaki seks dengan lelaki (LSL) di Banua semakin mengkhawatirkan. Buktinya, pada 2025 ada ratusan orang dari kelompok ini tertular HIV.
***
BANJARMASIN – Di Banjarmasin data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menunjukkan, kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) mendominasi temuan kasus HIV (human immunodeficiency virus) dalam tiga tahun terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Banjarmasin, drg Emma Ariesnawati mengungkapkan, dari total kasus yang tercatat, hampir 50 persen berasal dari kelompok LSL.
“Kelompok LSL merupakan salah satu populasi kunci dalam program pencegahan. Persentasenya cukup besar dari total kasus yang ada, yakni 43,2 persen,” ujarnya.
Secara tren, kasus HIV di Banjarmasin fluktuatif. Pada 2023 tercatat 227 kasus baru. Angka itu meningkat menjadi 262 kasus di 2024. Sementara pada 2025 tercatat 238 kasus. "Dari 238 kasus pada 2025, 102 diantaranya merupakan LSL," beber Emma.
Ia menilai, sejumlah faktor memengaruhi tingginya temuan kasus. Di antaranya kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat yang tinggi, serta perilaku seksual berisiko tanpa menggunakan kondom. “Penularan utama masih melalui hubungan seksual tanpa kondom. Faktor risiko lainnya juga terkait perilaku seksual berisiko,” tegasnya.
Selain itu, semakin luasnya cakupan skrining juga berkontribusi terhadap meningkatnya temuan kasus. Semakin banyak orang yang diperiksa, bertambah besar pula kemungkinan kasus terdeteksi.
Di Kota Banjarbaru kasus HIV sepanjang 2025 juga didominasi kelompok LSL. “Dari total 88 kasus HIV yang ditemukan pada 2025, sebanyak 26 kasus berasal dari kelompok LSL,” ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinkes Banjarbaru, dr. Siti Ningsih.
Ia mengatakan, temuan tersebut menjadi perhatian serius karena LSL merupakan salah satu kelompok populasi kunci dengan risiko penularan yang cukup tinggi.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Dinkes Banjarbaru menargetkan skrining HIV pada kelompok LSL sebanyak 92 orang pada 2026. "Strategi pengendalian HIV difokuskan pada deteksi dini, edukasi pencegahan, serta memastikan layanan tes dan pengobatan dapat diakses secara mudah, rahasia, dan tanpa stigma," ujarnya.
Beralih ke Kabupaten Banjar, di daerah ini Dinas Kesehatan menemukan 67 kasus HIV pada 2025. Dari jumlah itu, sekitar 39 persen atau 26 orang berasal dari kelompok LSL.
"Mayoritas berada pada usia produktif, yakni 17 tahun ke atas,” ujar Plt Kepala Dinkes Banjar Dr Noripansyah melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Marzuki.
Fakta ini, menurutnya, menjadi dasar penguatan strategi pencegahan berbasis kelompok berisiko, tanpa mengesampingkan pendekatan menyeluruh pada masyarakat luas.
Marzuki menegaskan, tingginya proporsi kasus pada kelompok tertentu tidak dimaknai sebagai pelabelan, melainkan jadi dasar perencanaan kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran. “Dalam pengendalian penyakit menular, pemetaan kelompok berisiko penting agar intervensi bisa efektif,” jelasnya.
Sisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) HSU terus menggencarkan pencegahan penularan HIV, terutama pada kelompok populasi berisiko tinggi. Sebab dari 23 kasus pada 2025, 14 orang dari kategori LSL.
“Kelompok LSL masih menjadi populasi kunci dengan risiko penularan tertinggi. Karena itu, intervensi pencegahan kami fokuskan pada edukasi perilaku hidup sehat, pemeriksaan dini, dan pendampingan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan HSU dr. Moch Yandi Friyadi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Fajeri.
Ia menjelaskan, Dinkes bersama puskesmas rutin melakukan sosialisasi dan penyuluhan kesehatan reproduksi ke sekolah-sekolah serta masyarakat yang tergolong populasi kunci.
Di Hulu Sungai Tengah (HST), Dinas Kesehatan setempat menunjukkan pada 2025 ada 53 orang yang positif HIV. Dari jumlah itu 70 persen atau sekitar 37 orang diantaranya diakibatkan perilaku LSL.
Kepala Dinas Kesehatan HST, dr Desfi Delfiana Fahmi menyebut ada ratusan orang tiap bulannya yang menjadi target pemeriksaan. Pihaknya semaksimal mungkin ingin menekan jumlah kasus.
Isu mengenai perilaku seks menyimpang atau LGBT memang sering kali dikaitkan sebagai pemicu utama tingginya angka penularan HIV di berbagai daerah, tidak terkecuali di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Menanggapi isu yang tengah marak tersebut, fakta di lapangan melalui data terbaru tahun 2025 menunjukkan bahwa kelompok LSL memang menjadi penyumbang kasus terbanyak di wilayah ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten HSS, Daru Priyanto, mengungkapkan bahwa dari total 27 pasien HIV yang tengah menjalani pengobatan, mayoritas penyebabnya adalah karena LSL dengan temuan sebanyak 8 orang.
Terpisah, upaya penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Balangan masih menghadapi tantangan besar. Hingga awal 2026, angka penemuan kasus di Bumi Sanggam menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, terutama pada populasi kunci tertentu.
Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan Balangan, terdapat 13 orang yang melakukan pengobatan HIV sepanjang 2025. Dari jumlah itu, sebanyak 7 orang atau lebih dari 50 persen di antaranya teridentifikasi berasal dari kelompok LSL.
Seluruh pasien dari kelompok LSL tersebut dilaporkan masih berusia muda dan belum ada satu pun yang berstatus menikah.
Kemudian di Kabupaten Barito Kuala, Dinas Kesehatan setempat mencatat, ada 17 kasus HIV pada 2025. Dari angka itu, 3 diantaranya merupakan LSL
Editor: Sutrisno
Editor : Arief