Dari data yang dihimpun Dinas Kesehatan, Tapin masih memerlukan tambahan sedikitnya 28 dokter spesialis.
Kepala Dinas Kesehatan Tapin, Noor Ifansyah mengungkapkan, saat ini Tapin telah memiliki 22 dokter spesialis yang tersebar di sejumlah fasilitas layanan kesehatan.
“Saat ini ada 22 dokter spesialis di Tapin. Namun, jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan ideal pelayanan kesehatan masyarakat yang terus berkembang,” katanya.
Kalau diakumulasi dari seluruh kebutuhan berdasarkan standar pelayanan dan beban layanan, Tapin masih kekurangan 28 dokter spesialis dari berbagai keahlian.
Kondisi Hulu Sungai Utara lebih memprihatinkan. Harapan warga HSU untuk mendapat layanan kesehatan spesialis di daerah sendiri masih menghadapi kenyataan pahit.
Kepala Bidang Pelayanan RSUD Pambalah Batung Amuntai, Akhmad Nizomy mengungkapkan, akhir tahun 2025, rumah sakitnya baru mendapat satu dokter spesialis gizi klinik melalui program pendayagunaan tenaga dokter Kementerian Kesehatan.
“Tambahan ini tentu membantu, tetapi kebutuhan kami masih jauh lebih besar. Kami juga sudah mengajukan permohonan dokter melalui kolegium perhimpunan profesi dan menjalin kolaborasi dengan rumah sakit lain,” ujarnya.
Keterbatasan tenaga medis di HSU tergambar dari data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Hulu Sungai Utara. Ketua IDI HSU, dr Yenny Kusuma Dewi menyebut, total dokter di kabupaten itu saat ini hanya 52 orang, terdiri dari 17 dokter spesialis dan 35 dokter umum.
“Jumlah ini masih jauh dari cukup untuk melayani lebih dari 225 ribu penduduk. Idealnya, jumlah dokter spesialis harus lebih banyak dan merata di fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Sementra itu, RSUD Datu Kandang Haji, sebagai rumah sakit rujukan daerah, terus memperluas layanan dan memperkuat kapasitas medis. Rumah sakit tersebut didukung oleh 22 dokter spesialis.
Direktur RSUD Datu Kandang Haji Balangan, drg Sudirman, menyampaikan bahwa keberadaan 22 dokter spesialis tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan poli yang terus bertambah.
“Di bidang pelayanan poli kita sudah cukup banyak, ada 22 dokter spesialis. Tentunya itu belum cukup, ke depan perlu kita tambahkan lagi,” ujarnya.
Rumah sakit mengakui bahwa kebutuhan layanan kesehatan bergerak lebih cepat dibanding ketersediaan tenaga medis spesialis.
Rumah Sakit Haji Damanhuri (RSHD) Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), memastikan pelayanan spesialistik relatif tercukupi.
Direktur RSHD Barabai, dr Nanda Sujud Andi Yudha Utama mengungkapkan, saat ini total terdapat 59 dokter spesialis, fellow, dan subspesialis yang aktif melayani pasien.
“Jumlahnya 59 orang. Yang berstatus ASN ada 22 orang, sedangkan dokter spesialis kontrak BLUD sebanyak 37 orang,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Senin (16/2/2026).
Dari sisi asal daerah, RSHD juga tidak hanya mengandalkan tenaga medis lokal. Tercatat sebanyak 27 dokter merupakan putra daerah Kalimantan Selatan, sementara 32 dokter lainnya berasal dari berbagai wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi hingga Papua.
Demikian juga dengan ketersediaan dokter spesialis di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Tanah Bumbu masih belum mencukupi terutama pada bidang jantung, bedah saraf, dan urologi.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD, Narni mengatakan, saat ini rumah sakit memiliki 29 dokter spesialis dan subspesialis yang aktif bertugas di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu. Para dokter tersebut mencakup 17 bidang keahlian medis.
Kekosongan dokter spesialis jantung, bedah saraf, dan urologi menyebabkan sebagian pasien harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah.
“Dalam satu pekan rata-rata dua hingga tiga pasien harus dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar daerah,” kata Narni.
Hal serupa juga dialami Hulu Sungai Selatan. Berdasarkan data aplikasi Si SDMK, saat ini tercatat ada 45 dokter spesialis yang bertugas di rumah sakit pemerintah daerah, dengan rincian 33 orang berada di RSUD Hasan Basri dan 12 orang di RSUD Daha Sejahtera.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi karena RSUD Hasan Basri memiliki tipe yang lebih tinggi dibandingkan RSUD Daha Sejahtera. Beberapa dokter di RSUD Daha Sejahtera masih berstatus dokter kunjungan.
JF Administrator Kesehatan sekaligus Timker SDM Kesehatan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten HSS, Basuki Alfiannor menjelaskan, bahwa kelangkaan lulusan menjadi faktor utama di balik kurangnya tenaga spesialis di daerah.
"Karena lulusannya sedikit sehingga dokter spesialis lebih banyak memilih di rumah sakit perkotaan," ujar Basuki.
Untuk Barito Kuala, malalui Kasubbag Hukum, Humas, dan Organisasi RSUD Abdul Aziz Marabahan, Al Pirrahman menjelaskan, untuk rumah sakit tipe C, kebutuhan dokter spesialis di RSUD Abdul Aziz Marabahan sejatinya telah terpenuhi.
"Untuk dokter gigi pun kami tidak hanya dokter gigi umum, tapi juga memiliki dokter gigi spesialis," tuturnya, Senin (16/2).
Untuk spesialis dasar, rumah sakit ini memiliki tiga dokter spesialis penyakit dalam, dua dokter spesialis bedah satu di antaranya sedang menempuh pendidikan subspesialis bedah vaskular dua dokter spesialis anak, serta dua dokter spesialis kebidanan dan kandungan.
Selain itu, dokter spesialis penunjang juga dinyatakan lengkap. Di antaranya dua dokter spesialis anestesi, masing-masing satu dokter spesialis patologi anatomi, patologi klinik, rehabilitasi medik, dan radiologi. Bahkan, terdapat pula sejumlah spesialis lain seperti spesialis kejiwaan hingga spesialis gizi klinik. (mal/mud/dly/mar/ dza/mr-163/gmp/lan)
Editor : Arief